DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 41.348.051.099 (17 OKT 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Cara The Script Merayakan Kebebasan dalam Konser di Jakarta

Cecylia Rura - 11 April 2018 12:05 wib
The Script di The Kasablanka, 10 April 2018 (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
The Script di The Kasablanka, 10 April 2018 (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Jakarta: Riuh penonton telah dimulai sejak gerbang pertama The Hall Kasablanka dibuka pukul 18.00 WIB. Lautan manusia itu siap berjingkrak dan menggelora bersama bersenandung dengan musik-musik pop-rock The Script.

Benar saja, sekitar pukul 18.30 WIB gerbang festival dengan porsi penonton terbanyak dari kelas lain dibuka. Penonton berlomba dan berlarian menempati garis terdepan, meski ruang yang setidaknya berkapasitas 20.000 penonton itu dibatasi tralis pemisah dengan penonton kelas tiket Golden.

Pukul 20.21 The Script mulai melantunkan singel Superheroes dilanjutkan Rock the World. Penonton bersorak menggema venue.

Setelah membawakan lagu ketiga, Paint the Town Green, interaksi antara The Script dan penonton dimulai.

"How's evrybody feelin' tonight?" sapa Danny O'Donoghue daei atas. panggung. Ia bercerita panjang pengalamannya saat berada di atas panggung Indonesian Idol pada malam sebelumnya. Takjub dengan jumlah penonton, Danny mengucapkan kalimat berbahasa Indonesia, "Cinta mati cinta mati," ujarnya.

Kendati tur musik ini sebagai rangkaian mempromosikan album kelima mereka, Freedom Child, lagu debut mereka masih dibawakan hingga membuat penonton bersenandung militan. Iya, lagu itu adalah singel The Man Who Can't Be Moved yang populer sejak tahun 2008. Jelas mereka sukses mengundang penonton bernostalgia.

Aksinya itu dilanjutkan dengan singel It's Not Right for You.

"Jakarta, kami menunggu waktu cukup lama untuk bisa berada di sini. Kami akan membawakan Freedom Child dan kalian adalah alasannya. Kalian sangat berharga. Memiliki passion besar dalam musik dan kehidupan," ucap sang gitaris Mark Sheehan.

"Kami akan memainkan lagi baru kami. Lagu ini kami tulis tahun ini, kami ingin ada kebebasan dalam cinta. Ini dia, Arms Open," nuansa sendu dengan beat music pelan dimainkan.

Penonton tak begitu ramai menyanyikan lagu ini. Tak seramai mereka bernyanyi lagu sebelumnya.

Aksi panggung selanjutnya mereka membawakan singel-singel andalan dari beberapa album sebelumnya di antaranya Nothing, No Man Is An Island, If You Could See Me Now, dan For the First Time. Masing-masing lagu tersebur diambil dari album terdahulunya, Science & Faith dan #3. Hanya No Man Is An Island yang diambil dari album Freedom Child.

Seperti pada konser umumnya, The Script meminta penonton mengangkat tangan sambil berjingkrak. Sontak venue indoor itu bergoyang.

Ketiganya lalu menghilang sejenak dari redup cahaya panggung. Sementara penonton di area festival belakang tampak melonggarkan barisan. Rupanya The Script menggelar kejutan kecil lewat aksi turun panggung menuju kerumunan penonton festival. Histeria penonton menjadi-jadi saat mereka tak percaya, Danny, Mark, dan Glen turun dari panggung utama.

Di panggung kecil itu, Danny mengenakan kemeja batik berlengan panjang. Ia melantunkan lagu We Cry dan Never Seen Anything "Quite Like You".

Redup cahaya sebagai penanda pergantian sesi aksi panggung kembali mengecoh penonton. Saat Mark dan Glen kembali ke singgasana mereka di panggung utama, Danny rupanya masih ingin tenggelam di tengah riuh penonton.

Penyanyi berusia 38 tahun itu kembali mengenakan setelan pakaian hitam, muncul di tengah panggung penonton bertiket kelas golden. Sambil membawakan singel The Energy Never Dies, Danny berjalan dari ujung ke ujung mengulurkan tangannya menyapa penonton.

Rain sebagai lagu terakhir dilantunkan saat Danny kembali bergabung bersama kedua kawannya di atas panggung utama.

"Jakarta kami mengucapkan banyak terima kasih," ucap Danny.

Konser semakin menuju puncak acara. The Script memainkan tiga lagu sebagai encore, No Good in Good Bye, Breakeven, dan Hall of Fame.

Di akhir aksi mereka, Danny berlari mengibarkan bendera pusaka Merah Putih dari ujung kanan hingga kiri lalu mengalungkannya di leher. Jelas ini semakin menarik simpati penonton yang bersorak bertenaga.

The Script seperti menyuarakan kebebasan dalam aksi panggungnya. Lewat aksi turun panggung dan pesan-pesan dalam lagu yang mereka sampaikan. Mereka tampak benar-benar menikmati tiap momen tampil di Jakarta. Begitu juga dengan para penonton.

Konser mereka berakhir sekitar pukul 22.30 WIB. Beberapa penonton tampak terpuaskan melihat aksi panggung idolanya itu.

"Melihat kalian (antusias), kami akan kembali di lain kesempatan," ucap Danny di sela akhir penampilannya.


 


(ASA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KONSER MUSIK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA MUSIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 17-10-2018