Senat Paraguay Setujui Perubahan Konstitusi, Massa Serbu Kongres

Sonya Michaella - 01 April 2017 08:55 wib
Massa membakar kantor Kongres Paraguay. (Foto: Reuters)
Massa membakar kantor Kongres Paraguay. (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, Asuncion: Pengunjuk rasa menyerbu dan membakar Kongres Paraguay, setelah Senat diam-diam menyetujui amandemen konstitusi yang memungkinkan Presiden Horacio Cartes dilengserkan dan diadakan pemilu ulang.

Perubahan ini diharuskan mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terlebih dahulu. Sedangkan, konstitusi negara telah melarang pemilihan kembali sejak tahun 1992, setelah kediktatoran brutal runtuh pada 1989.

"Sebuah kudeta telah kami lakukan. Kami menolak dan kami mengungang siapa pun yang menolak untuk bergerak bersama kami," kata Senator Desiree Masi dari oposisi Partai Demokrat Progresif, seperti dikutip Reuters, Sabtu 1 April 2017.

Tayangan di televisi menunjukkan pengunjuk rasa memecahkan jendela Kongres negara di bagian selatan Amerika tersebut. Beberapa jam setelahnya, kekerasan dan konfrontasi dengan polisi pun terjadi.



Dilaporkan, beberapa politisi dan wartawan terluka. Hal ini dikonfirmasi oleh Menteri Dalam Negeri Parauay, Tadeo Rojas.

"Polisi banyak yang terluka. Jumlah korban tak diketahui. Api berkobar karena mereka membakar ban," ucapnya.

Pada Jumat 31 Maret kemarin, Senat mengadakan sesi khusus tertutup di kantor Kongres Paraguat. Sebanyak 25 anggota parlemen dikabarkan hadir.

Beberapa negara Amerika Latin seperti Peru dan Chile mencegah akan adanya pemilihan ulang. Namun, negara seperti Kolombia dan Venezuela telah mengubah konsistusi mereka untuk memberikan kesempatan adanya pemilihan ulang.

Perubahan konstitusi di Paraguay ini juga memungkinkan mantan presiden Fernando Lugo untuk maju ke pemilihan ulang nanti.

"Semuanya akan dilakukan secara hukum," tegas Senator Carlos Filizzola, yang mendukung amandemen konstitusi sebagai cara yang memungkinkan Lugo untuk menjadi pemimpin Paraguay.
(FJR)

ADVERTISEMENT
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA AMERIKA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 20-11-2017