Aktivis Tewas, Mendagri dan Kepala Polisi Paraguay Dipecat

Willy Haryono - 02 April 2017 12:50 wib
Polisi berada di gedung Kongres yang dirusak massa di Asuncion, Paraguay, 1 April 2017. (Foto: AFP/NORBERTO DUARTE)
Polisi berada di gedung Kongres yang dirusak massa di Asuncion, Paraguay, 1 April 2017. (Foto: AFP/NORBERTO DUARTE)

Metrotvnews.com, Asuncion: Presiden Paraguay Horacio Cartes memecat menteri dalam negeri dan kepala kepolisian setelah terjadinya bentrok berdarah yang berujung tewasnya seorang aktivis muda. 

Bentrok terjadi terkait serbuan massa ke gedung Kongres Paraguay atas reformasi elektoral. 

Rekaman kamera CCTV memperlihatkan kematian Rodrigo Quintana, seorang pemimpin dari kalangan pemuda di Partai Liberal Paraguay, yang ditembak polisi. Peristiwa terjadi saat polisi menggeledah beberapa kantor partai di Asuncion untuk mencari pengunjuk rasa. 

Menurut laporan pemadam kebakaran dan seorang senator, seperti dikutip AFP, sekitar 30 orang terluka dalam penggeledahan kantor. Polisi mengatakan 211 orang ditangkap dalam operasi, beberapa dari mereka masih di bawah umur. 

Cartes merespons kematian Quintana dengan memecat Mendagri Tado Rojas dan Kepala Kepolisian Crispula Sotelo. Namun Menteri Luar Negeri Eladio Loizaga mengecam unjuk rasa sebagai "aksi dari grup brutal yang tidak mengerti demokrasi dan toleransi."

Massa menyerbu Kongres Paraguay pada Jumat malam. Mereka merusak sejumlah kantor dan menyalakan api karena kesal setelah senat menyetujui sebuah proposal yang dapat membuat presiden kembali mencalonkan diri dalam pemilihan umum. 

Oposisi mengecam penyetujuan proposan itu, yang dinilai mereka dapat membuat Paraguay kembali dikuasai kediktatoran. 

Tokoh sayap kanan Cartes berusaha mengubah konstitusi agar dirinya bisa kembali mengikuti pilpres pada 2018. Ia menyalahkan aksi kekerasan terbaru terhadap "sebuah grup dan media yang berusaha menghancurkan demokrasi serta kestabilan politik dan ekonomi."

"Demokrasi tidak dimenangkan atau dilindungi dengan kekerasan," ujar Cartes di Twitter. 

"Kita tidak boleh membiarkan kelompok barbar untuk menghancurkan perdamaian dan kesejahteraan rakyat," lanjut dia.

 
(WIL)

ADVERTISEMENT
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA AMERIKA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 20-11-2017