DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

AS Incar Kemenangan di Afghanistan

Fajar Nugraha - 13 Maret 2018 17:05 wib
Menhan AS James Mattis incar kemenangan di Afghanistan (Foto: AFP).
Menhan AS James Mattis incar kemenangan di Afghanistan (Foto: AFP).

Kabul: Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) James Mattis menegaskan bahwa Negeri Paman Sam mengincar kemenangan di Afghanistan, setelah lebih dari 16 tahun konflik terjadi di negara itu.
 
"Seperti apa kemenangan itu? Seperti sebuah negara dengan rakyat dan pasukan keamanan sendiri serta menegakan hukum sendiri dalam menghadapi ancaman. Tentunya dengan bantuan internasional hal ini bisa terwujud," jelas Mattis, seperti dikutip AFP, Selasa 13 Maret 2018.
 
AS memperbaharui fokusnya dalam operasi di Afghanistan setelah beberapa tahun di bawah kepemimpinan mantan Presiden Barack Obama. Fokus ini juga dipicu adanya stagnansi dalam penyelesaian konflik di Afghanistan.
 
"Semua (fokus) ini ditujukan untuk meraih rekonsiliasi politik bukan kemenangan secara militer," pungkas Mattis.
 
"Kemenangan akan berupa pada rekonsiliasi politik," tegasnya.
 
Sebagai bagian dari strategi di Asia Selatan, Presiden Donald Trump pada 2017 memerintahkan peningkatan penyerangan terhadap basis pertahanan Taliban. Hal ini termasuk laboratorium narkoba dan tempat pelatihan militan.
 
Lebih dari 3.000 pasukan tambahan AS sudah tiba di Afghanistan. Pasukan ini akan membantu pelatihan dan memberikan masukan kepada pasukan setempat.
 
Sekitar 14.000 pasukan Amerika saat ini diturunkan di Afghanistan. Jumlah ini bertambah dari 8.500 ketika Obama masih berkuasa di Amerika.
 
Upaya negosasi dilakukan oleh Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dengan pihak Taliban. Namun Taliban masih terus melakukan serangan terhadap kota dan warga sipil, sebagai respons langkah agresif Trump dan militer.
 
Selama Januari 2018 saja, serangan dari Taliban menewaskan 472 orang. Mattis menyebutkan, serangan yang dilakukan membuktikan bahwa Taliban semakin terdesak dan tidak bisa melakukan operasi yang lebih luas.


(FJR)

ADVERTISEMENT
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ASIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 17-12-2018