DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK, Dana Terkumpul RP 20.111.547.901 (22 SEP 2018)

Penyelidik PBB Salahkan Facebook Sebarkan Kebencian Rohingya

Sonya Michaella - 13 Maret 2018 10:08 wib
Pengungsi Rohingya yang ada di perbatasan Bangladesh. (Foto: AFP)
Pengungsi Rohingya yang ada di perbatasan Bangladesh. (Foto: AFP)

New York: Penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menuding Facebook sebagai salah satu alat menyebarkan kebencian terhadap krisis komunal Rakhine State dan juga memainkan peran penting dalam adanya dugaan genosida di sana.

Yanghee Lee, seorang penyelidik dari PBB untuk Myanmar, meyakini bahwa Facebook adalah bagian besar dari kehidupan publik, sipil dan swasta serta pemerintah.

"Di Myanmar, semua dilakukan melalui Facebook. Media sosial ini juga membantu Myanmar, namun juga menyebarkan ujaran kebencian," kata Yanghee, dikutip dari Guardian, Selasa 13 Maret 2018.

"Cara menggunakannya adalah menyampaikan kepada publik, dari umat Buddha untuk menghasut kekerasan dan kebencian terhadap Rohingya atau etnis minoritas lainnya," lanjut dia.

Hingga saat ini, pihak Facebook belum menanggapi langsung tudingan tersebut. Kendati demikian, mereka pernah menegaskan bahwa pihaknya berupaya menghapus unggahan terkait ujaran kebencian dan juga melarang akun-akun untuk menyebarkannya.

Sementara itu, Ketua Misi Pencarian Fakta Independen Internasional soal Myanmar, Marzuki Darusman dari Indonesia mengatakan, media sosial telah memainkan 'peran yang menentukan' terkait Myanmar.

"Ujaran kebencian tentu bagian dari itu. Menyangkut situasi di Myanmar, Facebook ada peran di situ," ucap dia.

Sejak Agustus 2017, hampir 700 ribu Muslim Rohingya meninggalkan Rakhine untuk hijrah ke perbatasan Bangladesh karena krisis kemanusiaan yang disebabkan bentrokan dengan militer Myanmar.

Banyak yang telah memberikan kesaksian mengerikan bahwa terjadi pembunuhan dan pemerkosaan Rohingya yang dilakukan oleh pasukan Myanmar.

Namun, pemerintah selalu menyangkal hal tersebut. Mereka berdalih akan memulangkan ratusan ribu Rohingya kembali ke Rakhine untuk hidup tenang. 


(WIL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KONFLIK MYANMAR
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ASIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 26-09-2018