Tentara Myanmar Akui Membunuh Warga Etnis Rohingya

Arpan Rahman - 11 Januari 2018 11:31 wib
Militer Myanmar dituduh melakukan kekerasan terhadap etnis Rohingya (Foto: AFP).
Militer Myanmar dituduh melakukan kekerasan terhadap etnis Rohingya (Foto: AFP).

Naypyidaw: Militer Myanmar memberikan pengakuan untuk kali pertama bahwa prajuritnya terlibat pembunuhan Muslim Rohingya. Pembantaian itu mewarnai kekerasan baru-baru ini di negara bagian Rakhine.
 
Dikatakan bahwa sebuah penyelidikan menemukan empat anggota pasukan keamanan terlibat pembunuhan 10 orang di desa Din Din dekat Maungdaw.

(Baca: Dewan PBB Sebut Myanmar Rencanakan Serangan Rohingya).
 
 
Laporan tersebut memaparkan keempat orang tersebut telah membantu warga desa melakukan serangan balas dendam terhadap apa yang disebut "teroris Bengali".
 
Myanmar dituduh melakukan pembersihan etnis di negara bagian Rakhine. Lebih dari 650.000 orang Rohingya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh sejak kekerasan meletus Agustus lalu. Mereka bawa berbagai cerita mengerikan tentang pembunuhan massal, pemerkosaan, dan penyiksaan.
 
Penduduk menuding militer, didukung oleh massa Buddhis setempat, membakar desa mereka dan menyerang serta membunuh warga sipil.
 
Militer Myanmar membantah menargetkan warga sipil, dan menegaskan bahwa pihaknya hanya memerangi militan Rohingya.
 
Myanmar menolak mengizinkan wartawan dan penyelidik eksternal ke Rakhine guna menyelidiki tuduhan pelanggaran tersebut. Militer mengumumkan bulan lalu bahwa pihaknya akan menyelidiki sebuah kuburan yang berisi 10 kerangka, yang ditemukan di dekat Din Inn.
 
Hasil penyelidikan, yang dipublikasikan di laman Facebook panglima komandan militer, mengatakan pembantaian tersebut terjadi pada 2 September.
 
"Memang benar bahwa baik penduduk desa maupun aparat keamanan mengakui bahwa mereka membunuh 10 teroris Bengali," katanya, menggunakan istilah yang biasa mereka sebut sebagai militan Rohingya.
 
"Tentara akan menuntut mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan dan yang melanggar peraturan perundang-undangan. Insiden ini terjadi karena warga desa etnis Budha diancam dan diprovokasi oleh para teroris," lanjutnya seperti dilansir BBC, Kamis 11 Januari 2018.

(Baca: PBB Adopsi Resolusi Hak Kewarganegaraan Rohingya).
 
Pengakuan ini menjadi sesuatu yang jarang atas kesalahan militer Myanmar. Pada November, militer mengelakkan diri dari kesalahan dalam kekerasan baru-baru ini. Secara tegas malah membantah membunuh orang Rohingya, membakar desa-desa, memperkosa perempuan serta anak perempuan, dan mencuri barang-barang.
 
Terlepas dari semua bukti kekejaman di Rakhine, sampai sekarang satu-satunya kuburan massal yang ditemukan oleh pemerintah Myanmar disalahkan pada militan Rohingya. Isinya jasad-jasad dari apa yang mereka katakan adalah 28 penduduk desa Hindu.
 
Beredar spekulasi bahwa penahanan dua wartawan Reuters pada Desember timbul setelah mereka menerima informasi tentang pembantaian di Inn Din.
 
Penyelidik hak asasi manusia PBB Yanghee Lee dijadwalkan mengunjungi Myanmar bulan ini. Namun dia dilarang masuk pada Desember setelah pemerintah menuduhnya tidak berlaku netral dan objektif.
 
Lee mengatakan keputusan untuk melarangnya menyiratkan "sesuatu yang sangat mengerikan" sedang terjadi di Rakhine.

 

(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KONFLIK MYANMAR
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ASIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 22-01-2018