Myanmar Sengsarakan Warga Rohingya di Rakhine

Arpan Rahman - 09 Februari 2018 13:53 wib
Presiden Joko Widodo bersama para pengungsi etnis Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh (Foto: Kemenlu RI).
Presiden Joko Widodo bersama para pengungsi etnis Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh (Foto: Kemenlu RI).

Rakhine: Pihak berwajib di Myanmar dikabarkan telah merampok, menculik, dan secara sengaja membiarkan kelaparan dialami pria, wanita, dan anak-anak Rohingya. Tindakan tersebut merupakan upaya membuat hidup mereka sangat menderita.
 
"Dengan sengsara, mereka akan meninggalkan negara itu," sebut pernyataan Amnesty International.
 
Dalam sebuah pengarahan yang dikeluarkan, pada Rabu 7 Februari, kelompok hak asasi manusia tersebut menuduh bahwa pembersihan etnis terus berlanjut terhadap orang Rohingya. Hampir 690.000 jiwa diantaranya telah meninggalkan Myanmar sejak tentara pemerintah melancarkan tindakan keras di negara bagian Rakhine utara, Agustus lalu.
 
Pasukan keamanan sudah merampok keluarga Rohingya di pos pemeriksaan saat mereka berupaya melarikan diri ke Bangladesh. Termasuk menculik perempuan dan anak gadis dari desa mereka, mendorong orang-orang lain untuk pergi dalam ketakutan, Amnesty melaporkan.
 
Namun, orang Rohingya mengatakan alasan utama mereka terus melarikan diri dari negara tersebut adalah kekurangan makanan.
 
"Kami tidak bisa mendapatkan makanan, itu sebabnya kami melarikan diri," Dildar Begum, 30, seperti dilansir Al Jazeera, Jumat 9 Februari 2018. Ia, yang berasal dari sebuah desa dekat kota Buthidaung di negara bagian Rakhine, mengatakan kepada Amnesty International.
 
Kekurangan pangan sebagian besar disebabkan oleh tindakan pasukan keamanan Myanmar, yang memblokir Rohingya untuk mengakses sawah, pasar, dan bantuan kemanusiaan bagi mereka, kata Amnesty.
 
"Tindakan yang disengaja oleh pemerintah Myanmar, pada dasarnya membuat banyak orang Rohingya kelaparan ketika mencoba bertahan untuk tinggal di desa mereka," kata kelompok tersebut.
 
Amnesty mendasarkan temuannya pada wawancara yang dilakukan di Bangladesh dengan 11 orang Rohingya dan delapan wanita yang meninggalkan rumah mereka pada Desember dan Januari.
 
"Alih-alih meneror penduduk melalui pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran desa Rohingya yang meluas, pasukan keamanan saat ini menggunakan tindakan yang lebih tenang dan lebih halus buat memeras orang, membuat hidup menjadi tak tertanggungkan, sehingga mereka tidak punya pilihan selain pergi," kelompok pemerhati HAM tersebut melaporkan.



(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KONFLIK MYANMAR
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ASIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 22-02-2018