Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.659.184.273 (20 JULI 2018)

Banyak Isu Imigrasi, Pengacara Disewa untuk Bela WNI di AS

Sonya Michaella - 11 Juli 2018 13:46 wib
Harun (kanan), seorang pengacara yang ditunjuk Kemenlu RI dalam mengatasi masalah WNI di AS (Foto: Sonya Michaella).
Harun (kanan), seorang pengacara yang ditunjuk Kemenlu RI dalam mengatasi masalah WNI di AS (Foto: Sonya Michaella).

Jakarta: Meski tak banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Amerika Serikat (AS), namun permasalahan imigrasi dan suaka tak kunjung selesai di Negara Adi Daya tersebut.
 
Kementerian Luar Negeri AS pun menyewa pengacara inhouse bernama Harun, seorang WNI yang sudah lama tinggal di AS, di mana ia akan menjadi penasehat hukum untuk KBRI Washington DC dan lima KJRI di lima negara bagian AS.
 
"Selama saya menangani kasus WNI, kebanyakan dari mereka adalah WNI overstayer. Lalu mereka sudah diputus untuk dideportasi, mereka tidak mau dan tetap tinggal di AS," kata Harun kepada awak media di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Rabu 11 Juli 2018.
 
Pasalnya, jumlah WNI di sana pun tak banyak. Namun, KBRI dan KJRI pun tak bisa mengetahui berapa jumlah pasti WNI yang datang ke AS dan tak melaporkan diri ke perwakilan RI terdekat.
 
"Di negara-negara bagian AS seperti Philadelphia, Washington DC dan New York memang masih banyak WNI kita yang ilegal di sana," lanjut Harun.
 
Harun juga mengakui, kebijakan imigrasi yang diterapkan Presiden AS Donald Trump sangat berbeda jauh dari yang pernah diterapkan Barack Obama.
 
"Penindaklanjutan pelanggaran imigrasi kini meningkat menjadi penahanan. Pengungsi dan pencari suaka diperlakukan seperti tahanan dan dipisahkan dari keluarga mereka," tutur dia.
 
Belum lagi rencana administrasi Trump yang akan mencalonkan Hakim Brett Kavanaugh ke Mahkamah Agung, seorang hakim konservatif.
 
Keputusan ini mengatur badan peradilan untuk lebih ke arah 'kanan' dengan implikasi penting bagi masyarakat Negeri Paman Sam.


(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG INDONESIA-AS
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ASIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 21-07-2018