Korsel Temukan Jejak Gas Radioaktif dari Tes Nuklir Korut

Marcheilla Ariesta - 13 September 2017 11:44 wib
Pemerintahan Kim Jong-Un aktif melakukan uji coba nuklir dan rudal (Foto: AFP).
Pemerintahan Kim Jong-Un aktif melakukan uji coba nuklir dan rudal (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Seoul: Korea Selatan (Korsel) mengungkap adanya jejak gas radioaktif yang dipastikan berasal dari tes nuklir Korea Utara (Korut). Penemuan ini diungkapkan Komisi Pengamanan dan Keamanan Nuklir.
 
Komisi Pengamanan dan Keamanan Nuklir Korsel menyebutkan detektor xenon di bagian timur laut negara tersebut menemukan jejak isotop xenon-133 sembilan kali. Sementara itu, peralatan yang sama juga bergerak di lepas pantai timur dan mendeteksi jejak isotop hingga empat kali.
 
"Sulit untuk mengetahui betapa kuat uji coba nuklir dengan jumlah xenon yang terdeteksi. Meski demikian, kita dapat mengatakan bahwa xenon ini berasal dari Korea Utara," seru Komisaris Eksekutif Choi Jongbae, seperti dikutip dari laman Channel News Asia, Rabu 13 September 2017.
 
Meski demikian, komisi ini masih belum bisa memastikan jenis bom yang diuji coba Korut. Sebelumnya, tepatnya awal September ini, Pyongyang kembali melakukan uji coba nuklir keenam. Korut mengklaim mereka menguji coba bom hidrogen yang bisa dipasang di rudal jarak jauh mereka.
 
Uji coba nuklir ini mendapat kecaman dari banyak pihak, termasuk Korsel. Sebagai negara berbatasan langsung dengan Korut, warga Seoul ketar-ketir dan mendesak pemerintahnya membangun sistem nuklir sendiri.
 
Sementara itu, xenon adalah gas alami yang tidak berwarna yang digunakan dalam pembuatan beberapa jenis lampu. Tapi xenon-133 yang terdeteksi adalah isotop radioaktif yang tidak terjadi secara alami dan yang telah dikaitkan dengan tes nuklir Korea Utara di masa lalu.
 
Komisi ini juga mengatakan bahwa jejak xenon yang terdeteksi tidak berdampak pada lingkungan dan populasi Korea Selatan.
 
Sanksi untuk Korut
 
Akibat uji coba nuklir yang dilakukan oleh Korut, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menjatuhkan sanksi baru. Namun Korut mengecam hal tersebut dan mengancam untuk melakukan aksi balas dendam.
 
Enam sasaran utama dalam resolusi sanksitersebut adalah menutup impor minyak Korut, melarang adanya ekspor tekstil, mengakhiri seluruh kontrak kerja di luar negeri, menekan upaya penyelundupan, menghentikan kerja sama Korut dengan negara lain dan memberi sanksi kepada perusahaan Korut.
 
(Baca: DK PBB Jatuhkan Sanksi Baru untuk Korut).
 
Pelarangan ekspor tekstil, yang merupakan pendapatan kedua terbesar Korut setelah batu bara dan mineral lainnya. Selama ini, hampir 80 persen ekspor tekstil Korut masuk ke Tiongkok.
 
Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley mengatakan bahwa dunia tidak akan pernah menerima Korut yang memiliki senjata nuklir dan hari ini DK PBB mengatakan jika rezim Korut tidak menghentikan program nuklirnya, dunia akan bertindak untuk menghentikannya. Resolusi itu diterapkan demi menghambat usaha Korut untuk mendanai dan mendapat pasokan dana untuk program nuklirnya.
 
AS adalah negara yang pertama kali mengeluarkan rancangan resolusi yang menyerukan pelarangan penuh ekspor minyak ke Korut serta pembekuan aset Kim Jong-un juga Partai Pekerja Korea.
 
Namun kemudian, AS mengajukan rancangan lain di mana embargo minyak penuh, pembekuan aset dan larangan perjalanan untuk Kim Jong-un.



(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG NUKLIR KOREA UTARA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ASIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 21-09-2017