Dipilih Tanpa Pemungutan Suara, Warga Singapura Protes Presiden Baru

Marcheilla Ariesta - 13 September 2017 18:06 wib
Halimah Yacob, presiden perempuan pertama Singapura (Foto: AFP).
Halimah Yacob, presiden perempuan pertama Singapura (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Singapura: Sebagian masyarakat Singapura merasa diangkatnya Halimah Yacob sebagai presiden perempuan pertama sangat tidak demokratis. Pasalnya, Halimah merupakan calon tunggal, setelah beberapa kandidat lainnya dinyatakan tidak memenuhi kriteria kelayakan.
 
Bukan pertama kali insiden seperti ini terjadi. Pemerintah beberapa kali mendiskualifikasi kandidat presiden lantaran tidak memenuhi kriteria kelayakan. 
 
(Baca: Halimah Yacob, Presiden Perempuan Pertama Singapura).
 
Dari awal sudah ada kegelisahan jika pemilihan presiden ini diperuntukkan bagi ras tertentu, dalam hal ini Melayu. Dan keputusan untuk 'menyerahkan pekerjaan' tanpa pemilihan menambah kemarahan tersebut.
 
Media sosial penuh dengan kritik kala Halimah diumumkan sebagai presiden terpilih.
 
"Terpilih tanpa sebuah pemilihan. Sungguh ini lelucon," ujar pengguna Facebook Pat Eng, seperti dikutip dari AFP, Rabu 13 September 2017.
 
"Saya akan memanggilnya Presiden Dipilih mulai sekarang," seru warganet lainnya. Sementara itu, di media sosial Twitter, diramaikan dengan hastag #NotMyPresident.
 
Halimah, dalam pidatonya menegaskan akan mulai bekerja bersama untuk membawa Negeri Singa menuju kemajuan. Dia menegaskan, statusnya sebagai presiden perempuan pertama di Singapura bukan hanya sekedar tokenisme.
 
"Setiap perempuan bisa bercita-cita ke kantor tertinggi di tanah saat Anda memiliki keberanian, tekad dan keinginan untuk bekerja keras," katanya.
 
Kepala negara Singapura memiliki wewenang terbatas, termasuk memveto sumpah pejabat senior. Tapi presiden selalu memegang peran dan jarang ada ketegangan dengan pemerintah.
 
Pihak berwenang memutuskan menjadikannya kandidat dari masyarakat Melayu untuk menempatkan diri mereka di depan presiden, mendorong kerukunan di negara kota berpenduduk 5,5 juta orang itu. Singapura didominasi oleh etnis Tionghoa, dan dipilihnya Halimah memberi lebih banyak kesempatan kepada kelompok minoritas.
 
(Baca: Bumbu Rasialisme dalam Pemilihan Presiden Singapura).
 
Halimah adalah presiden Melayu pertama Singapura selama hampir lima dekade. Yang terakhir adalah Yusof Ishak, presiden 1965-1970, tahun-tahun pertama kemerdekaan negara kota.
 
Namun keputusan untuk membatasi kandidat terhadap satu ras telah menyebabkan kekhawatiran, termasuk di kalangan orang Melayu, karena hal itu dianggap sebagai diskriminasi positif yang bertentangan dengan prinsip meritokrasi tradisional negara tersebut.



(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG POLITIK SINGAPURA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ASIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 20-11-2017