Aliran Buddha Garis Keras Myanmar Bicara soal Rakhine

Sonya Michaella - 14 September 2017 11:08 wib
Para biksu dari aliran Buddha, Ma Ba Tha. (Foto: AFP)
Para biksu dari aliran Buddha, Ma Ba Tha. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Nay Pyi Taw: Aliran Buddha garis keras di Myanmar, Ma Ba Tha, angkat bicara soal krisis kemanusiaan di Rohingya. Dalam pandangan Ma Ba Tha, umat Buddha di Rakhine adalah korban amukan umat Muslim.

Gerakan ini sebenarnya sudah dibekukan oleh pemerintahan Aung San Suu Kyi karena ujaran kebencian. Namun, para biksunya masih secara aktif mempromosikan gerakan mereka. 

Kendati demikian, aliran Ma Ba Tha berada di pihak Aung San Suu Kyi, yang dianggapnya sudah melakukan hal yang benar untuk krisis Rakhine, yakni aksi yang dianggap mereka diam.

Dikutip dari BBC, Kamis 14 September 2017, Ma Ba Tha sama sekali tidak menunjukkan simpati dan keprihatinannya terhadap Bengali, sebutan mereka bagi pengungsi Rohingya.

"Apa yang ingin saya katakan adalah Buddha di Rakhine diserang oleh teroris. Saya tidak tahu soal Muslim. Yang saya tahu, kami (Buddha) diserang," ujar salah satu biksu Ma Ba Tha bernama Eaindar Sakka Biwintha.

"Foto yang mengandung kebohongan di Facebook atau media sosial lainnya, saya rasa, Suu Kyi tidak akan suka itu. Sungguh menjijikkan bahwa pemimpin negara kita dihina," kata dia.

Biksu Eaindar juga mengaku pernah bertemu dengan juru bicara keamanan Suu Kyi di Mandalay. Juru bicara itu percaya bahwa Buddha adalah korban utama dari krisis di Rakhine.

Biksu Eaindar hanyalah satu dari banyak biksu yang akhirnya mau buka suara kepada media. Selama ini, aliran Ma Ba Tha memang membangun tembok tinggi dengan para wartawan.

Menurut laporan, Rohingya memiliki populasi 1,1 juta jiwa dan bertahun-tahun mengalami diskriminasi di Myanmar. Mereka ditolak kewarganegaraannya meskipun banyak memiliki nenek moyang yang 'mengakar' di wilayah tersebut.

Pelapor khusus PBB mengenai hak asasi manusia di Myanmar mengatakan bahwa kekerasan terakhir mungkin telah menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas, kebanyakan dari mereka adalah Rohingya.
 
Myanmar mengatakan jumlah korban tewas sekitar 430, sebagian besar dari mereka "teroris ekstremis" dari Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).
 
Dikatakan bahwa 30.000 etnis Rakhine dan Budha lainnya telah dipindahkan ke dalam wilayah utara Rakhine. Di sana, program bantuan telah dikurangi karena kekerasan merebak.





(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KONFLIK MYANMAR
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ASIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 23-11-2017