DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.000.625.454 (13 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Warga Tewas Capai 179, PM Jepang Akan Temui Korban Banjir

Fajar Nugraha - 11 Juli 2018 10:26 wib
Warga Jepang yang tinggal dalam tempat penampungan sementara di Mabi, Okayama. (Foto: AFP).
Warga Jepang yang tinggal dalam tempat penampungan sementara di Mabi, Okayama. (Foto: AFP).

Tokyo: Korban tewas akibat bencana banjir yang melanda Jepang meningkat menjadi 179 jiwa. Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe bergerak menuju ke salah satu daerah yang paling parah terkena bencana ini.

Baca juga: Korban Tewas Banjir Jepang Melonjak Jadi 179 Orang.

Sebelumnya, Abe sudah membatalkan rencana perjalanan luar negeri selama empat hari karena bencana yang kian memburuk. Abe pun direncanakan untuk mengunjungi daerah Okayama yang dilanda banjir dan melihat besarnya skala kerusakan secara langsung.
 
Dengan puluhan orang yang dilaporkan masih hilang, jumlah korban tewas akibat hujan derat yang memicu banjir dan longsor tersebut dikhawatirkan akan bertambah. Ini merupakan bencana yang paling parah terkait cuaca di Jepang dalam lebih dari tiga dekade terakhir.
 
Petugas penyelamat pada Rabu 11 Juli 2018 masih menggali melalui setelah banjir bandang dan tanah longsor yang menelan seluruh lingkungan, tetapi harapan memudar bahwa setiap korban baru dapat ditemukan.
 
Abe dijadwalkan terbang di atas Distrik Mabi untuk melihat kerusakan, dan bertemu dengan para pengungsi dan pejabat setempat untuk membahas kebutuhan mereka.
 
Lebih dari 10.000 orang masih berada di penampungan di sebagian besar Jepang tengah dan barat, kata media lokal, termasuk di sebuah sekolah di kota Kurashiki di Prefektur Okayama.
 
Sekitar 300 orang bermalam di Sekolah Dasar Okada. Banyak dari mereka tidur di atas tikar biru yang ditata di gedung olahraga sekolah.
 
Hiroko Fukuda, 40 tahun, ada di sana bersama suaminya, tetapi mereka telah mengirim putrinya yang masih muda untuk tinggal bersama kerabatnya. Fukada sangat begitu tertekan karena evakuasi ini dan menyebabkanya berhenti makan.
 
Keluarga itu meninggalkan rumah mereka pada Jumat 6 Juli 2018 malam, dan kembali Senin untuk menemukan bahwa seluruh lantai dasar telah terendam di bawah banjir yang merusak segalanya dari elektronik hingga foto.
 
"Kita bisa menerima kehilangan barang-barang seperti peralatan rumah tangga, tapi kenangan," katanya, suaranya menghilang, seperti dikutip AFP, Rabu 11 Juli 2018.
 
"Kami tidak bisa mendapatkan foto-foto fotonya di usia tiga tahun," katanya tentang putrinya.
 
"Sangat sakit ketika memori kita hilang," tuturnya.
 
Di antara benda yang hancur akibat banjir adalah kimono Fukuda, termasuk "furisode" yang dikenakan pada acara-acara khusus. Sambil berkaca-kaca Fukuda mengatakan dirinya ingin sekali melihat sang putri mengenakan pakaian tradisional Jepang.


(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG BANJIR BANDANG
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA ASIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 13-11-2018