Perbudak 18 Tunawisma, Miliarder Inggris Dipenjara 80 Tahun

Arpan Rahman - 13 September 2017 20:19 wib
Ilustrasi Metrotvnews.com
Ilustrasi Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Nottingham: Sekeluarga jutawan yang menyekap 18 pria tunawisma sebagai budak telah dijatuhi hukuman penjara selama total 80 tahun.
 
Klan Rooney memaksa para tunawisma dalam perbudakan selama lebih dari dua dekade, menahan mereka hidup dalam karavan kumuh, bekerja dengan upah kecil atau tanpa upah serta terus-menerus mengalami penyiksaan.
 
Keluarga yang tinggal tidak menetap tersebut menghasilkan lebih dari GBP1,5 juta yang dihabiskan untuk gaya hidup mewah mereka. Sementara para korban mereka menderita, satu orang bahkan dihantam lempengan beton ke wajahnya.
 
Bulan lalu, keluarga itu dihukum karena serangkaian pelanggaran perbudakan modern menyusul salah satu investigasi terbesar yang pernah dilakukan di Inggris.
 
Sepuluh pria dan seorang wanita dari keluarga tersebut dipenjara selama 79 tahun dan tujuh bulan di Pengadilan Nottingham Crown.
 
Antara November 2016 sampai Agustus tahun ini, John, 31; Patrick, 31; Bridget, 55; Martin Snr, 57; Martin, 23; John, 53; Peter, 36; Gerard, 46; dan Lawrence Rooney, 47, semuanya dihukum berkomplot memaksa seseorang bekerja paksa.
 
Dua terdakwa merupakan "yang paling bersalah" adalah anak kembar Patrick dan John Rooney yang dipenjara masing-masing selama 15 setengah dan 15 tahun sembilan bulan.
 
Hukuman dijatuhkan Hakim Timothy Spencer QC, yang mengatakan bahwa keluarga tersebut 'melakukan kengerian tanpa ampun'.
 
Famili Rooney menyiksa korban mereka dan membuat mereka takut dengan kehidupan, sementara dipaksa tidur di karavan yang 'lembab dengan air kencing dan kotoran'.
 
Salah satu korban ditinggalkan sebagai 'orang yang hancur, remuk, dan patah'.
 
Para budak tunawisma, berusia antara 18 dan 63 tahun, dipaksa bekerja keras, mengangkut dan memasang ubin di lokasi petualangan mereka di Drinsey Nook dan Washingborough, Lincs.
 
Hakim berkata: "Anda sudah memanjatkan doa bagi orang-orang yang karena berbagai alasan, telah jatuh dalam kesulitan -- orang-orang yang menjadi tunawisma, pecandu alkohol, orang-orang dengan masalah kesehatan mental."
 
Banyak korban sangat rentan dan santunan negara mereka dicuri oleh keluarga Rooney.
 
Inspektur Kepala Chris Davison, Kepala Kriminal di Kepolisian Lincolnshire, mengatakan: "Korban tidak akan pernah mendapatkan kembali kehidupan yang dirampas dari mereka, tapi saya harap hukuman ini memberi mereka berbagai kenyamanan bahwa keadilan telah ditegakkan dan menunjukkan bahwa kita akan melakukan segalanya dengan kekuatan kita untuk berupaya menghentikan penderitaan orang lain."
 
"Kami tidak akan berhenti pada putusan ini karena ada kemungkinan korban perbudakan modern lainnya di wilayah kami. Perbudakan modern bukan hanya kerja paksa seperti yang telah kita lihat dalam Operation Pottery -- dapat mengambil banyak bentuk, termasuk eksploitasi seksual, perbudakan domestik, aktivitas penipuan, atau eksploitasi kriminal," cetusnya seperti dilansir Metro.co.uk, Rabu 13 September 2017.
 
"Hal ini tidak selalu terjadi pada orang yang paling rentan -- siapa pun, wanita atau anak-anak dapat diperdagangkan atau direkrut dalam aktivitas ini, seringkali dengan janji uang atau keuntungan lainnya," bubuh Davison.
 
"Apapun bentuknya - perbudakan modern adalah kejahatan yang benar-benar mengerikan dan menghancurkan," pungkasnya.



(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PERISTIWA UNIK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA DUNIA UNIK
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 26-09-2017