Warga Iran Serukan Referendum di Tengah Kekacauan Politik

Arpan Rahman - 14 Februari 2018 18:27 wib
Presiden Iran Hassan Rouhani di Teheran, 11 Februari 2018. (Foto: AFP/IRANIAN PRESIDENCY)
Presiden Iran Hassan Rouhani di Teheran, 11 Februari 2018. (Foto: AFP/IRANIAN PRESIDENCY)

Teheran: Sekelompok tokoh terkemuka di Iran merasa telah kehilangan harapan adanya reformasi di Teheran. Mereka menyerukan sebuah referendum demi memastikan apakah pemerintahan saat ini masih didukung mayoritas rakyat.

Satu hari usai Presiden Iran Hassan Rouhani memunculkan gagasan digelarnya referendum sebagai cara mengakhiri perpecahan politik, 15 tokoh terkemuka menegaskan para elite politik sudah gagal mewujudkan cita-cita negara Iran.

Seruan disampaikan belasan tokoh, termasuk pengacara pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Shirin Ebadi; Narges Mohammadi, aktivis hak asasi manusia yang saat ini dipenjara di Teheran; Nasrin Sotoudeh, pembela HAM; dan sutradara film Mohsen Makhmalbaf dan Jafar Panahi.

"Empat dekade telah berlalu sejak berdirinya republik Islam, sebuah pemerintahan yang obsesinya terhadap islamisasi telah meninggalkan sedikit ruang bagi cita-cita republik," ujar para tokoh, seperti dilaporkan Guardian, Rabu 14 Februari 2018.

Rouhani tidak menjelaskan secara detail mengenai seperti apa referendum yang dimaksud. 

Sementara itu mata uang Iran kembali anjlok terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir. Hal ini menambah runyam kondisi perekonomian Iran.

Berbicara pekan lalu, Rouhani mengungkapkan kekhawatirannya tentang sejumlah rival politiknya yang dinilai enggan mendengarkan suara masyarakat.


(WIL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG POLITIK IRAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA DUNIA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 23-05-2018