Rusia Tahan Delapan Tersangka Terkait Bom Saint Petersburg

Arpan Rahman - 07 April 2017 21:12 wib
Korban luka dalam serangan di Saint Petersburg, Rusia 3 April lalu dibawa ke rumah sakit (Foto: AFP).
Korban luka dalam serangan di Saint Petersburg, Rusia 3 April lalu dibawa ke rumah sakit (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Moskow: Para penyelidik Rusia, pada Kamis 6 April, menahan delapan orang yang diduga terlibat dalam pengeboman kereta metro Saint Petersburg. Penahanan terjadi saat negara itu mengadakan aksi unjuk rasa peringatan untuk menghormati kematian 14 korban.
 
"Enam orang ditahan di Saint Petersburg dan dua di Moskow yang terlibat dalam tindakan teror setelah operasi penyelidikan dan pencarian dilakukan dengan layanan keamanan FSB dan Kementerian Dalam Negeri," menurut Komite Investigasi Rusia dalam sebuah pernyataan.
 
Selama perburuan tersangka, para penyelidik menemukan bahan peledak “identik” dengan yang didapati di stasiun metro Saint Petersburg yang ditemukan sesaat sebelum ledakan mematikan di sebuah terowongan kereta.
 
"Senjata api dan amunisi juga ditemukan di tempat tinggal tersangka," kata pihak komite seperti dikutip South China Morning Post dari AFP, Jumat 7 April 2017.
 
Penyidik mengatakan sebelumnya, Kamis, bahwa mereka telah mencari datar “beberapa warga asal republik Asia Tengah, yang telah berhubungan” dengan tersangka pengebom Akbarjon Djalilov, terduga berkebangsaan Rusia kelahiran Kirgistan.
 
Komite Investigasi berkata, berbagai benda “yang relevan dengan penyelidikan” telah disita, tetapi tidak mengungkapkan apa materinya.
 
Selagi investigasi soal pengeboman berlangsung cepat, ribuan orang berkumpul dalam aksi unjuk rasa resmi di Moskow dan Saint Petersburg untuk mengenang para korban.
 
Massa menggenggam bunga dan balon putih berkumpul di sebuah reli di luar stasiun metro Institut Teknologi Saint Petersburg, salah satu dari dua stasiun di jantung serangan.
 
"Saya datang untuk menunjukkan bahwa kami tidak akan takut. Kami akan menjadi lebih bersatu dalam tragedi ini," kata Valentina Zlobina, 48 tahun.
 
Di Moskow, kerumunan ribuan orang menyanyikan serenade di sebelah tembok Kremlin dalam sebuah acara yang disiarkan langsung di televisi pemerintah, termasuk pekerja angkutan umum dan anggota parlemen terkemuka pro-Kremlin.
 
Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan yang menghantam kereta bawah tanah di kota kedua terbesar Rusia, Senin 3 April.
 
Jasad Djalilov ditemukan di lokasi ledakan dan jejak DNA-nya juga ditemukan di sebuah tas berisi bom yang berhasil dijinakkan di stasiun metro lain, kata peneliti.
 
Kepala Komite Investigasi, Alexander Bastrykin, telah memerintahkan para pejabat untuk mencermati setiap potensi “mata rantai” antara terduga penyerang dan kelompok militan Islamic State (ISIS).
 
Militan ISIS -- termasuk pejuang asing dari negara Asia Tengah pecahan-Soviet dan wilayah Kaukasus -- telah berulang kali mengancam serangan di tanah Rusia untuk membalas dukungan militer Moskow bagi pemimpin Suriah Bashar al-Assad.
 
Sementara menunggu klaim tanggung jawab atas ledakan Saint Petersburg, ISIS pada Kamis mengatakan ada di balik serangan terpisah, yang menewaskan dua polisi lalu lintas Rusia di kota selatan, Astrakhan, pekan ini.
 
Klaim itu muncul setelah badan keamanan mengatakan, mereka telah menewaskan empat tersangka di balik pembunuhan di kota terdekat dengan wilayah Kaukasus Utara yang berkecamuk kekerasan.
 
Di kuburan, di luar Saint Petersburg, para kerabat yang murung dan segala sahabat mengadakan pemakaman pertama salah satu korban serangan metro. Sekitar 50 orang membawa bunga dan menangis berkumpul di sebuah desa di pinggiran kota untuk pemakaman pembuat boneka, Irina Medyantseva  50 tahun, yang berada di stasiun metro dengan putrinya Yelena, yang kini dirawat di rumah sakit.
 
"Kami baru saja membeli sebuah flat dekat sini di gedung yang indah, putri-putri kami mengurusnya dengan baik, dan kemudian semua ini terjadi," kata duda yang berduka, Alexander Kaminsky.
 
"Anda tidak dapat memproses apa yang terjadi dalam pikiran Anda. Hanya monster yang bisa membunuh orang yang tidak bersalah,” ujar Svetlana Koroleva, rekan mendiang korban. 
 
Serangan itu telah mengguncang sejumlah otoritas dan mengguncang Saint Petersburg hanya dua bulan sebelum jadi tuan rumah pertandingan pembukaan kejuaan sepak bola Piala Konfederasi, pemanasan untuk Piala Dunia 2018 di Negeri Beruang Merah.



(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG TEROR DI RUSIA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA EROPA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 20-11-2017