Kisah Remaja yang Coba Bunuh Ratu Inggris

Arpan Rahman - 14 Januari 2018 19:06 wib
Ratu Elizabeth II (tengah) bersama Pangeran Charles dan tunangannya saat itu Lady Diana pada 1981. (Foto: AFP)
Ratu Elizabeth II (tengah) bersama Pangeran Charles dan tunangannya saat itu Lady Diana pada 1981. (Foto: AFP)

Islamabad: Pada 1981, Christopher John Lewis, remaja Selandia Baru yang terganggu mentalnya, mengarahkan senapan kaliber 22 ke Ratu Inggris Elizabeth II selama tur keliling Negeri Kiwi.

Pelurunya meleset. Namun menurut sebuah penyelidikan oleh reporter Hamish McNeilly untuk situs web Stuff, anak berusia 17 tahun itu terobsesi menghabisi seluruh keluarga kerajaan. Ketika itu, pemerintah Inggris berusaha menekan pemberitaan mengenai percobaan pembunuhan itu yang nyaris menewaskan seorang ratu.

Dua tahun setelah percobaan penembakan, remaja itu berencana membunuh Pangeran Charles. Ia kemudian melarikan diri dari sebuah bangsal rumah sakit jiwa. Pada 1995, polisi Selandia Baru mengirimnya berlibur ke pantai agar tidak berada dekat keluarga kerajaan. Dia bunuh diri di penjara pada 1997.

Pada usia 17, Lewis memiliki catatan kriminal perampokan bersenjata, pembakaran, dan penyiksaan hewan. Dia mengidolakan bandit Australia Ned Kelly dan pembunuh berantai Amerika, Charles Manson.

Pada Rabu 14 Oktober 1981, Lewis mengenakan sarung tangan dan memasukkan senapannya ke dalam sebuah bilik toilet yang sepi di kota tertua Selandia Baru, Dunedin. Ia berencana menembak iring-iringan Ratu Inggris.

Polisi menemukan kliping keluarga kerajaan di tempat tinggal Lewis. Ditemukan juga rute iring-iringan Ratu hari itu, dengan tulisan "Operation = Ass QUEB" tertulis di atas kertas.


Ratu Elizabeth II. (Foto: AFP)

Ratu baru saja keluar dari mobil Rolls-Royce untuk menyapa 3.500 ahli kesehatan, dan saat itulah suara desingan peluru terdengar.

Menurut mantan Sersan Polisi Dunedin Tom Lewis (tidak ada hubungannya dengan si penembak), polisi segera berusaha menyamarkan keseriusan ancaman tersebut. Seraya mengatakan kepada pers Inggris bahwa bunyi tersebut adalah sebuah benda yang jatuh. Saat ditanyai lebih lanjut oleh wartawan, mereka mengatakan seseorang telah meledakkan petasan di dekatnya.

Menurut Tom Lewis, perdana menteri saat itu, Robert Muldoon, takut jika kabar menyebar tentang seorang remaja hampir membunuh Ratu. Jika kabar beredar, maka keluarga kerajaan tidak akan pernah lagi mengunjungi Selandia Baru.

Laporan polisi tahunan 1981 berbunyi: "Letusan senjata api selama kunjungan Yang Mulia Ratu berfungsi mengingatkan kita semua mengenai potensi risiko terhadap keluarga kerajaan, terutama saat berada di jalan-jalan umum," seperti dikutip Pakistan Today, Minggu 14 Januari 2018.

Polisi delapan kali mewawancarai remaja tersebut. Dia mengklaim telah diperintahkan untuk membunuh Ratu oleh seorang warga Inggris yang dikenalkan kepadanya bernama Snowman atau "Manusia Salju." 

Snowman diduga mengatakan kepada Lewis mengenai Front Nasional sayap kanan di Inggris yang pro Nazi. Ia juga mungkin mengatakan Lewis bisa menjadi bagian dari kelompok tersebut yang juga bermunculan di Selandia Baru.

Lewis kemudian mengaku telah dikunjungi pejabat tinggi dari pemerintah di Wellington selama interogasi 13 hari. Ia diberitahu agar tidak pernah membahas insiden tersebut.


Keluarga kerajaan Inggris. (Foto: AFP)

"Jika saya pernah menyebutkan kejadian seputar wawancara atau organisasi saya, atau bahwa saya berada di gedung itu, atau bahwa saya menembak, mereka akan memastikan bahwa saya 'mengalami nasib yang lebih buruk daripada kematian'," tulis Lewis. dalam draf otobiografi yang ditemukan di samping tubuhnya sesudah dia bunuh diri. Naskah itu diterbitkan secara anumerta.

Bukti lebih lanjut tentang obsesi Lewis terhadap keluarga kerajaan muncul pada 1983. Ketika dia berupaya membekuk seorang penjaga di sebuah rumah sakit jiwa, di mana dia ditahan atas percobaan membunuh Pangeran Charles, yang mengunjungi negara tersebut pada April bersama Putri Wales dan putra mereka, William

Empat belas tahun setelah usaha Lewis menyudahi kehidupan Ratu, keluarga kerajaan kembali ke Selandia Baru pada November 1995.

Lewis, yang berusia 31 tahun ketika, dianggap sebagai ancaman serius terhadap keselamatan ratu. Kepolisian Selandia Baru kemudian mengasingkan Lewis ke Great Barrier Island di utara negara tersebut, dengan akomodasi gratis, uang belanja setiap hari dan memakai kendaraan. Dia tidak diawasi penuh selama 24 jam.

"Saya mulai merasa seperti bangsawan," tulis Lewis tentang 10 hari pengasingannya.

Lewis bunuh diri di penjara pada usia 33 tahun, saat menunggu persidangan atas pembunuhan seorang ibu muda dan penculikan anaknya. Sesaat sebelum kematiannya, Lewis mengatakan kepada pacarnya tentang percobaan membunuh Ratu Inggris.

"Sial," kata Lewis pada kekasihnya, "Sial... tembakan saya meleset."



(WIL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KERAJAAN INGGRIS
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA EROPA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 25-04-2018