Serang Suriah, PM Inggris dan Presiden Prancis Dikecam

Fajar Nugraha - 16 April 2018 20:08 wib
Perdana Menteri Inggris Theresa May harus menghadapi kritikan terkait serangan di Suriah (Foto: AFP).
Perdana Menteri Inggris Theresa May harus menghadapi kritikan terkait serangan di Suriah (Foto: AFP).

London: Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Presiden Prancis Emmanuel Macron dihadapkan pada kemarahan dari para anggota parlemen masing-masing.
 
Hal itu disebabkan turut sertanya Inggris dan Prancis dalam melakukan serangan udara dengan Amerika Serikat di Suriah. Bagi PM May, Serangan itu merupakan aksi militer besar pertama Inggris sejak berkuasa.
 
(Baca: Trump Klaim Serangan ke Suriah Sukses Besar).
 
May dihadapkan pada anggota parlemen usai melanjutkan dengan serangan bersama tanpa persetujuan parlemen sebelumnya. Isu semacam ini menjadi subjek yang sensitif di Inggris, di mana masih jelas ingatan partisipasi Negeri Ratu Elizabeth dalam invasi pimpinan AS ke Irak pada 2003.
 
Jeremy Corbyn, pemimpin Partai Buruh yang menjadi oposisi utama mengatakan, serangan itu 'dipertanyakan secara hukum'. Corbyn menuntu dibuat undang-undang baru untuk menghentikan pemerintah meluncurkan aksi militer tanpa dukungan anggota parlemen dalam keadaan apapun.
 
"Saya percaya bahwa parlemen seharusnya diajak berkonsultasi dan memberikan suara mengenai masalah ini. Perdana menteri Inggris bertanggung jawab kepada parlemen, bukan pada keinginan seorang presiden AS," tulisnya dalam surat akhir pekan hingga Mei.
 
Para pemimpin oposisi Partai Nasional Skotlandia dan Demokrat Liberal juga telah mengkritik May dan ada kemungkinan pemungutan suara di parlemen Senin malam yang dapat mempermalukan perdana menteri jika dia kalah.
 

Presiden Emmanuel Macron dikritik oleh parlemen (Foto: AFP).


Keabsahan internasional
 
Di Prancis, Presiden Macron juga menghadapi kritik serupa untuk menyerang Suriah tanpa berkonsultasi dengan legislatif. Tetapi Macron membela langkah itu serta kekuatan konstitusionalnya dalam sebuah wawancara TV pada Minggu.
 
"Mandat ini diberikan secara demokratis kepada presiden oleh rakyat dalam pemilihan presiden," katanya.
 
 
(Baca: Putin Peringatkan Kekacauan jika Ada Serangan ke Suriah).
 
 
Macron juga mengatakan dia telah meyakinkan Presiden AS Donald Trump untuk tetap terlibat di Suriah 'untuk jangka panjang'.
 
Tetapi Macron tetap  dihujani kritikan dari dari kanan dan kiri.
 
Pemimpin Front Nasional Marine Le Pen menuduh Macron tidak menunjukkan bukti penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Suriah untuk membenarkan serangan tersebut.
 
Sementara Ketua Partai French Unbowed Jean-Luc juga mengutuk serangan itu. Kecaman serupa juga dilontarkan oleh pemimpin Partai Republik Laurent Wauquiez, dia mengatakan "tidak percaya pada serangan hukuman".
 
(Baca: Assad: Serangan Koalisi adalah Bentuk Agresi).
 
Namun pada konferensi pers di Paris pada Senin, Macron mengatakan bahwa Prancis telah bertindak dengan "legitimasi internasional".
 
Dia berpendapat operasi itu sah meski tidak disetujui oleh PBB karena di bawah resolusi PBB 2013, Suriah seharusnya menghancurkan persenjataan senjata kimianya.

 
 


(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KRISIS SURIAH
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA EROPA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 20-04-2018