Menunggu Sikap dari Peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi

Fajar Nugraha - 02 September 2017 13:32 wib
Dunia menunggu Aung San Suu Kyi bertindak hadapi konflik di Rakhine (Foto: AFP).
Dunia menunggu Aung San Suu Kyi bertindak hadapi konflik di Rakhine (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Jakarta: Selama sepekan terakhir kekerasan merebak di wilayah Rakhine, Myanmar. Etnis Rohingya kembali menjadi korban dalam aksi kekerasan.
 
Perhatian tertuju kepada pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi. Posisi Suu Kyi sebagai Penasihat Nasional,-yang memegang kekuasan di balik Presiden Htin Kyaw- dinilai bisa memainkan pengaruh menghentikan insiden kekerasan yang terjadi di Rakhine.
 
Pada 25 Agustus, sekelompok orang dari militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) melancarkan serangan ke pos perbatasan yang dijaga polisi Myanmar. Insiden itu menewaskan 10 orang anggota polisi, yang pada akhirnya memicu operasi besar-besar terhadap penduduk di Rakhine.
 
Kabar terakhir yang muncul dari petinggi militer di Myanmar menunjukkan bahwa 400 orang dilaporkan tewas, dalam operasi militer. Sementara 38 ribu warga Rohingya sudah menyeberang ke Bangladesh untuk mencari perlindungan.
 
Tetapi, mengapa hingga saat ini belum ada tindakan dari Suu Kyi. Ketika serangan terjadi Suu Kyi melontarkan pernyataan yang menyebutkan 'teroris sudah masuk ke Myanmar'. 
 
Namun tetap saja janjinya sebagai pembela hak dan demokrasi masih belum terpenuhi. Terlebih lagi dengan statusnya sebagai Nobel Perdamaian 1991.
 
Selama bertahun-tahun Suu Kyi menjalani tahanan rumah dan terus melawan kepada pemerintah junta. Kini setelah Myanmar bergerak maju menuju demokrasi, apakah terlalu muluk-muluk baginya mengambil langkah mengakhiri kekerasan yang dialami Rohingya.
 
Konflik kekerasan yang terjadi di Rakhine, sangatlah kompleks. Kondisi diperparah dengan serangan dari pihak militan yang pada akhirnya memicu tindakan keras dari militer.
 
Dunia pun memperhatikan sikap diam Suu Kyi atas penderitaan yang dialami oleh Rohingya. Mereka heran, mengapa sosok Suu Kyi yang berani melawan junta, justru diam ketika melihat krisis yang terjadi di Rakhine.
 
Atas sikap ini, Suu Kyi pantas mengingat kembali ucapannya ketika menerima penghargaan Nobel Perdamaian. "Pada dasarnya tujuan hidup manusia adalah menciptakan dunia yang bebas dari penindasan, rasa putus asa dan tidak memiliki tempat tinggal. "Dunia di mana, setiap lapisan masyarakat dan lokasi di mana individu merasakan kebebasan dan hidup dalam damai". Pada dasarnya, ini sama sekali tidak dirasakan oleh etnis Rohingya di Myanmar.
 
Saat ini, sudah sangat tepat untuk waktunya untuk bertindak. Suu Kyi sudah sepatutnya mengambil langkah rekonsiliasi yang merangkul Rohingya.



(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KONFLIK MYANMAR
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA OPINI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 21-09-2017