DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Tekanan Tajam Demi Akhiri 'Neraka di Bumi' Suriah

Arpan Rahman - 23 Februari 2018 10:03 wib
Anak-anak melihat kehancuran tempat tinggalnya di Ghouta timur, Suriah (Foto: AFP).
Anak-anak melihat kehancuran tempat tinggalnya di Ghouta timur, Suriah (Foto: AFP).

Damaskus: Tekanan internasional meningkat, pada Kamis 22  Februari, untuk mengakhiri penderitaan sipil di daerah kubu pemberontak di dekat Damaskus. Di sana, jet-jet Suriah sudah menghunjamkan bom dalam ledakan yang menewaskan lebih dari 300 orang.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menggambarkan kematian dan kehancuran yang melanda Ghouta Timur, sejak Minggu, sebagai 'neraka di bumi'. Ia bergabung dengan Prancis menyerukan segera gencatan senjata demi kemanusiaan.

Dewan Keamanan PBB diperkirakan akan memungut suara, mungkin Kamis, mengenai sebuah rancangan resolusi. Mereka menuntut gencatan senjata 30 hari demi memudahkan pengiriman bantuan dan evakuasi medis.

Dorongan pemungutan suara dilakukan setelah Palang Merah meminta akses ke wilayah tersebut. Dikatakan bahwa situasi sangat mengerikan, sehingga tim bantuan diizinkan mengakses Ghouta Timur demi menolong dokter dan perawat yang kewalahan.

Serangan udara terbaru di sejumlah kawasan kubu menewaskan setidaknya 50 warga sipil. Termasuk delapan anak-anak, dan melukai 350 lainnya, pada Rabu 21 Februari.

Rumah sakit kewalahan

Banyak rumah sakit di wilayah ini juga menjadi sasaran, sehingga banyak yang tidak beroperasi.

"Pertempuran tampaknya menimbulkan lebih banyak penderitaan di hari-hari dan pekan-pekan depan, dan tim kami perlu diizinkan masuk Ghouta Timur guna membantu yang terluka," kata Marianne Gasser, ketua delegasi Palang Merah Internasional di Suriah, seperti dilansir AFP, Jumat 23 Februari 2018.

Pesawat tempur Suriah bulan ini mengintensifkan serangan di wilayah yang terletak di sebelah timur Damaskus dan hunian bagi sekitar 400.000 warga sipil.

"Korban luka parah tewas hanya karena mereka tidak dapat diobati pada waktunya," kata Gasser.

Menurut pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), sekitar 1.500 orang terluka sejak Ahad di salah satu episode paling berdarah dari perang tujuh tahun.

Banyak korban Rabu terbunuh saat bom barel -- minyak mentah, amunisi improvisasi yang biasanya menyebabkan kerusakan dahsyat -- dijatuhkan di kota Kfar Batna.

Rumah sakit di Douma, kota terbesar di Ghouta Timur, masih berfungsi. Namun masuknya korban luka-luka sedemikian banyak, hingga dokter dan perawat tidak dapat menyelamatkan semua.

PBB dan sebuah LSM mengatakan setidaknya tujuh rumah sakit dibom pada Senin dan Selasa.

"Rezim mengklaim bahwa mereka menargetkan kelompok bersenjata dan teroris, namun kenyataannya hanya menargetkan warga sipil," kata Dokter Ahmad Abdulghani, di rumah sakit Dar al-Shifa di Hammuriyeh, yang rusak parah akibat serbuan.

Kantor berita negara Suriah SANA mengatakan 18 orang terluka di Damaskus kena tembakan pemberontak.

Resolusi PBB

Swedia dan Kuwait merancang sebuah resolusi PBB yang mendorong gencatan senjata selama sebulan. Meminta pemungutan suara "sesegera mungkin," kata misi Swedia tersebut.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menuduh rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad menggunakan terorisme sebagai "dalih" untuk menyerang warga sipil.

Rusia, yang merupakan pendukung utama Assad, membantah terlibat langsung dalam serangan Ghouta. Sebelumnya Rusia meminta sebuah pertemuan Dewan Keamanan mengenai krisis itu, yang digambarkan Duta Besar Vassily Nebenzia sebagai "situasi kompleks".

"Ada teroris di sana yang tentara Suriah sedang berperang," kata Nebenzia.

Namun Duta Besar AS Nikki Haley berkata, "Sangat tidak masuk akal untuk mengklaim bahwa serangan terhadap warga sipil ada kaitannya dengan memerangi terorisme".

"Ini saatnya untuk segera mengambil tindakan dengan harapan menyelamatkan nyawa para pria, wanita, dan anak-anak yang diserang oleh rezim Assad yang barbar," katanya. Ia mendesak anggota dewan untuk mendukung rancangan resolusi.

Kelompok anti-rezim, sebagian besar faksi Islamis dan juga afiliasi Al-Qaeda di Suriah, menguasai wilayah tersebut sejak 2012.

Militan "kekhalifahan" kelompok Islamic State (ISIS) sekarang hilang dari peta. Rezim tampaknya tengah berusaha menyudahi penaklukannya kembali. Ghouta, di pinggiran ibukota, merupakan target utama.

Pada Selasa, pasukan rezim dikerahkan ke wilayah Afrin, kubu Kurdi di sepanjang perbatasan utara Syria dengan Turki. Langkah tersebut dilakukan menyusul pasukan Kurdi minta Damaskus melindunginya dari serangan sebulan oleh Ankara.

Tapi pasukan itu seketika ditembaki oleh pasukan Turki. Pihak penembak berdalih bahwa mereka telah memberi "tembakan peringatan" ke "kelompok teroris pro-rezim".


(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KRISIS SURIAH
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA OPINI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 17-12-2018