Menelaah Pemicu Kekerasan Terakhir di Rakhine

Arpan Rahman - 09 September 2017 19:19 wib
Warga menyelematkan diri dari kekerasan yang terjadi di Rakhine (Foto: AFP).
Warga menyelematkan diri dari kekerasan yang terjadi di Rakhine (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Rakhine: Gejolak kekerasan terbaru di negara bagian Rakhine, Myanmar, telah menyebabkan puluhan ribu warga sipil Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.
 
Eksodus tersebut dimulai pada pekan terakhir Agustus setelah gerilyawan Rohingya menyerang pos polisi, menewaskan 12 anggota pasukan keamanan. Puluhan militan dilaporkan terbunuh dalam serbuan itu dan bentrokan berikutnya.
 
Ketika serangan serupa ke pos polisi terjadi tahun lalu, militer Myanmar melancarkan tindakan keras atas warga Rohingya yang menyebabkan klaim pelanggaran hak asasi manusia berat.
 
Tatkala penduduk berlarian menuju perbatasan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mendesak pihak berwenang Myanmar melindungi semua warga sipil "tanpa diskriminasi".
 
Muslim Rohingya sudah bertahun-tahun mengalami penganiayaan di Myanmar. Ketegangan mendalam antara mereka dan mayoritas populasi Budha di Rakhine menyebabkan kekerasan komunal yang mematikan di masa lalu.
 
Kapan kekerasan terakhir dimulai?
 
"Pada 25 Agustus, militan Rohingya dipersenjatai pisau dan bom rakitan menyerang lebih dari 30 pos polisi di Rakhine utara," kata pemerintah.
 
Bentrokan dilaporkan terus berlanjut sejak itu, mengusir warga sipil dari kedua komunitas tersebut. Ada juga laporan kematian warga sipil.
 
Militer Myanmar menyebutkan jumlah korban tewas 400 orang, dan mengatakan hampir semua orang yang terbunuh adalah militan.
 
Banyak yang skeptis terhadap klaim tersebut lantaran akses wartawan ke negara bagian Rakhine sangat dibatasi. Sehingga sulit untuk mengkonfirmasi rincian di lapangan.
 
Human Rights Watch mengatakan bahwa data satelit menunjukkan kebakaran yang meluas di setidaknya 10 wilayah. Wartawan melaporkan kebakaran di sepanjang perbatasan Bangladesh.
 
Pemerintah mengatakan gerilyawan menyulut kebakaran, para pelarian dari Rohingya mengaku bahwa pembakaran diawali oleh tentara dan gerilyawan Budha yang melakukan serangan balasan setelah serbuan militan.
 
Bagaimana situasi di perbatasan?
 
Jumlah pengungsi yang mencari selamat di Bangladesh terus meningkat sejak serangan 25 Agustus. Lalu berubah menjadi banjir pengungsi pada awal September.
 
PBB sekarang mengatakan 300 ribu orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh dalam 10 hari terakhir saat desa mereka terbakar -- lebih dari itu selama keseluruhan tahun lalu.
 
Sebagian besar wanita, anak-anak, dan orang tua. Banyak di antaranya menderita luka-luka yang diakibatkan tindakan keras tersebut.
 
Juga sejumlah laporan menyebut tentang orang-orang yang dicegah agar tidak melintasi perbatasan. Kendati ada permintaan PBB untuk Bangladesh supaya mengizinkan mereka masuk. Pihak berwenang Bangladesh sekarang melakukannya.
 
Tapi sekitar 20.000 Rohingya diperkirakan terjebak di sepanjang sungai Naf, yang membentuk perbatasan. Badan-badan bantuan mengatakan, mereka berisiko tenggelam -- seperti yang terjadi pada sekelompok 20 orang yang tewas mana kala melintasi perbatasan pekan lalu -- serta bahaya penyakit dan ular berbisa.
 
Bangladesh sudah menjadi hunian bagi ratusan ribu pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan sebelumnya di Myanmar.
 
Di dalam negeri Myanmar, terbit juga laporan tentang umat Budha Rakhine yang bergerak ke selatan demi menghindari kekerasan.
 
Siapakah militan ARSA
 
Sebuah kelompok bernama Tentara Pembebasan Arakan Rohingya (ARSA) mengatakan bahwa mereka melakukan serangan 25 Agustus. Kelompok ini pertama kali muncul pada Oktober 2016, ketika melakukan serangan serupa terhadap pos keamanan, menewaskan sembilan petugas polisi.
 
Dikatakan bahwa tujuan utamanya untuk melindungi minoritas Muslim Rohingya dari represi negara di Myanmar.
 
Pemerintah mengatakan ARSA adalah kelompok teroris yang pemimpinnya telah dilatih di luar negeri. Pemimpinnya bernama Ata Ullah, seorang Rohingya yang lahir di Pakistan dan dibesarkan di Arab Saudi, menurut International Crisis Group.
 
Namun juru bicara ARSA mengatakan kepada Asia Times bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan kelompok militan manapun dan bahwa anggotanya adalah pemuda Rohingya yang marah sejak kekerasan komunal di tahun 2012.
 
Apa keluhan Rohingya?
 
Pemerintah Myanmar mengklaim bahwa Rohingya merupakan imigran ilegal dari Bangladesh dan menolak kewarganegaraannya. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa mereka telah hidup di sana selama beberapa generasi. Bangladesh juga menyangkal mereka adalah warganya.
 
Banyak yang tinggal di kamp penampungan sesudah dipaksa pergi dari desa mereka karena gelombang kekerasan komunal yang menyapu Rakhine pada 2012. Mereka tinggal di salah satu negara bagian termiskin di Myanmar, dan gerakan serta akses mereka terhadap pekerjaan sangat dibatasi.
 
Setelah serangan militan pada Oktober 2016, banyak orang Rohingya menuduh pasukan keamanan melakukan pemerkosaan, pembunuhan, pembakaran desa, dan penyiksaan selama tindakan militer yang menyusul aksi. Sekitar 80.000 orang meninggalkan Myanmar ke Bangladesh pada saat serangan 25 Agustus -- namun angka tersebut sekarang telah meningkat dua kali lipat.
 
Badan hak asasi manusia PBB, dalam sebuah laporan, mengatakan "kekejaman yang menghancurkan" telah terjadi. PBB sekarang melakukan penyelidikan formal, meskipun pihak militer membantah berbuat kesalahan.
 
Pekan lalu, kepala HAM PBB Zeid Ra'ad Al Hussein mengatakan bahwa kekerasan terakhir dapat dicegah.
 
"Beberapa dekade pelanggaran hak asasi manusia yang terus-menerus dan sistematis, termasuk respons keamanan yang sangat keras terhadap serangan tersebut sejak Oktober 2016, hampir pasti berkontribusi pada terpupuknya ekstremisme kekerasan," katanya seperti dinukil BBC, Sabtu 9 September 2017.
 
Pelapor khusus PBB untuk HAM di Myanmar, Yanghee Lee, telah mengkritik pemimpin de facto negara tersebut, Aung San Suu Kyi. Ia mengatakan bahwa Suu Kyi harus melakukan intervensi atas nama orang-orang Rohingya.
 
"Itu yang kami harapkan dari pemerintah manapun, guna melindungi semua orang di dalam wilayah yurisdiksinya sendiri. Dia terperangkap di antara sebongkah halangan dan titik kekerasan, tapi saya pikir sudah saatnya dia keluar dari tempat itu sekarang," Lee mengatakan kepada BBC pada Senin.
 
Apakah reaksi balik regional?
 
Negara Muslim di Asia Tenggara dan negara lainnya menyuarakan keprihatinan atas situasi Rohingya.
 
Muncul protes di kalangan warga Indonesia, dan Menteri Muar Negeri Retno Marsudi bertemu para pemimpin Myanmar demi mendesak mereka untuk meredakan krisis.
 
(Baca: Bertemu Suu Kyi, Menlu RI Sampaikan Empat Usulan Indonesia)
 
Di Malaysia, yang menjadi pemukiman bagi puluhan ribu pengungsi Rohingya, Perdana Menteri Najib Razak menyuarakan "situasi mengerikan" yang dihadapi Rohingya.
 
Maladewa mengatakan bahwa pihaknya memutuskan semua hubungan ekonomi dengan Myanmar sampai negara tersebut berhenti melanggar hak asasi manusia Rohingya. Sementara Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa pihaknya "sangat prihatin atas laporan mengenai meningkatnya jumlah korban tewas dan pengungsian paksa dari Muslim Rohingya".
 
Di Kyrgyzstan di Asia Tengah, laga sepak bola internasional dengan Myanmar telah dibatalkan, tampaknya karena sebuah rencana oleh beberapa pengguna media sosial untuk melakukan demonstrasi menjelang kualifikasi Piala Asia.

 

 
(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG ROHINGYA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA OPINI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 21-09-2017