Rahaf al-Qunun Mewujudkan Perjuangan Perempuan Saudi

Arpan Rahman - 11 Januari 2019 15:14 wib
Rahaf Mohammed al-Qunun berada di dalam perlindungan UNHCR setelah menolak pulang ke Arab Saudi. (Foto: AFP).
Rahaf Mohammed al-Qunun berada di dalam perlindungan UNHCR setelah menolak pulang ke Arab Saudi. (Foto: AFP).

Bangkok: Pada 5 Januari, Rahaf Mohammed al-Qunun mengambil risiko. Dia menentang keluarganya dan pemerintah negara asalnya, Arab Saudi, dengan berusaha melarikan diri ke Australia, tempat dia berharap menemukan suaka.

Di balik itu terbentang penindasan dan pelecehan seumur hidup di bawah undang-undang perwalian pria terbatas di Arab Saudi. Dengan bepergian tanpa izin ayahnya, Qunun melanggar hukum dan kebiasaan Negeri Petrodolar dan dia tahu kemungkinan akan menghadapi hukuman berat -- atau kematian -- jika rencana pelariannya gagal.

Dalam beberapa jam, dia berhadapan dengan ketakutan terburuknya. Ketika mendarat di bandara Bangkok untuk apa yang seharusnya menjadi transit singkat, ia dihadang oleh seorang diplomat Arab Saudi dan otoritas Thailand yang mengambil paspornya dan memberitahu bahwa ia akan dideportasi kembali ke keluarganya. Qunun menolak, mengurung dirinya sendiri di dalam kamar hotel bandara dan menulis tweet permohonan suaka dari kamarnya.

"Saya benar-benar dalam bahaya," tulisnya dalam satu postingan. Dia mengulangi ketakutannya bahwa keluarganya akan membahayakan atau membunuhnya seandainya dia dikembalikan kepada mereka.

Kasus Qunun mengundang banyak perhatian secara daring, ketika berbagai kelompok hak asasi manusia, jurnalis, dan aktivis turut memberikan perhatian. Tekanan meningkat pada Pemerintah Thailand, yang awalnya bekerja sama dengan pejabat Arab Saudi yang ingin memulangkannya. Akhirnya, Thailand mundur dan setelah dua hari berselisih, Qunun kini berada di bawah pengawasan badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR). Namun masa depannya tetap tidak pasti.

Sementara Qunun telah diberikan setidaknya penangguhan sementara, pertikaian dramatisnya hanya ilustrasi terbaru dari perjuangan yang sedang berlangsung dari banyak perempuan Saudi. Terlepas dari kondisi penahanannya yang traumatis, ia juga lebih beruntung daripada banyak orang, termasuk Dina Ali Lasloom, wanita Arab Saudi lainnya yang berupaya melarikan diri dari kerajaan pada 2017 untuk kabur dari pernikahan paksa. Lasloom dicegat dalam perjalanan ke Australia dan akhirnya dideportasi kembali ke Arab Saudi, meskipun mengungkapkan kekhawatiran bahwa keluarganya juga akan membunuhnya. Nasibnya kini masih belum jelas.

Banyak orang lain digagalkan lebih cepat -- perempuan Arab Saudi yang bepergian sendiri menjadi sasaran pengawasan ketat di bandara domestik, dan tak terhitung banyaknya wanita yang tak pernah berhasil mencapai penerbangan berangkat dari sana.


Namun fakta bahwa Qunun -- dan sejumlah wanita seperti dia setiap tahun -- masih bersedia mengambil risiko dramatis seperti itu dapat disaksikan kenyataan mengerikan yang mereka hadapi di Arab Saudi. Ini terlepas dari kenyataan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman (MBS) telah tanpa henti membualkan dirinya sebagai pembebas perempuan, menggembar-gemborkan janji buat meningkatkan partisipasi perempuan dalam masyarakat, dan bersikeras dalam sebuah wawancara bahwa perempuan benar-benar berhak setara di Arab Saudi.

Dari awal penobatannya ke kekuasaan, MBS dinilai berulang kali mengkhianati komitmen yang seharusnya bagi Pemerintah Saudi. Bahkan ketika dia menerima banyak pujian dari pers Barat atas keputusannya memberikan wanita Saudi hak mengemudi, dia mengunci sejumlah wanita pemberani yang telah berjuang selama bertahun-tahun untuk mendapatkan hak itu.

Di bawah sistem perwalian pria di kerajaan, wanita dari segala usia tetap di bawah hukum yang tergantung pada izin ‘pengawal’ laki-laki mereka untuk bepergian, menikah, membuka rekening bank atau bahkan mendapatkan paspor. (Para pengawal ini mungkin seorang suami, ayah, paman atau bahkan seorang putra -- artinya seorang wanita lanjut usia masih dapat dibatasi hak-hak sipil dan hak manusianya oleh seorang remaja; penjaga tersebut harus selalu laki-laki). Perempuan dapat ditangkap dan didakwa karena ‘ketidaktaatan’ yang dilaporkan kepada wali mereka. Di pengadilan, kesaksian seorang wanita hanya bernilai setengah dari jumlah seorang lelaki dan banyak hakim secara terbuka memusuhi perempuan yang berani membawa kasus mereka ke pengadilan.

Selain sistem hukum diskriminatif Arab Saudi, banyak praktik yang sama menindasnya bertahan melalui cara-cara informal. Sementara banyak perempuan Saudi memang memiliki hubungan keluarga yang suportif dan memberdayakan, banyak lainnya menghadapi perlakuan kasar di tangan kerabat dan pasangan. Kekerasan dalam rumah tangga merajalela di banyak komunitas Negeri Kaya Minyak itu, tetapi masih sangat kurang dilaporkan. Sementara mereka yang berani mencari bantuan dari pihak berwenang, banyak yang dipecat atau disalahkan atas penderitaan mereka.

Bagi perempuan yang menghadapi jaringan kontrol hukum, sosial dan agama yang sedemikian kusut, prospek di Arab Saudi dapat terlihat tanpa harapan meninggalkan beberapa, seperti yang dikatakan Qunun, "tidak ada ruginya."

Upaya mencegat Qunun juga menunjukkan fakta lain yang meresahkan: Rezim Saudi tetap berkomitmen secara aktif mengendalikan warganya di luar negeri, yang tampaknya tidak terguncang oleh gejolak global setelah pembunuhan brutal terhadap wartawan Saudi dan kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi. Dalam beberapa hal, Barat terlibat dalam hal ini. Rehabilitasi bertahap MBS pasca-Khashoggi -- di mana Presiden Trump telah menjadi pemain kunci -- memperkuat rasa impunitas berbahaya untuk putra mahkota.

Namun kisah Qunun juga menawarkan potensi harapan: Melalui perlawanannya yang berani, dia, untuk sesaat, telah menarik perhatian global mengenai perjuangan berkelanjutan para wanita Saudi. Gambaran yang mencolok tentang seorang wanita muda, yang tidak memiliki apa-apa selain ponsel, menghadapi kekuatan pemerintahan yang menindas adalah metafora yang tepat untuk momen penuh kesusahan dalam sejarah Arab Saudi. Ini menggambarkan absurditas keinginan fanatik rezim demi mengendalikan, serta kesia-siaan yang tak terhindarkan dari obsesi ini.

Baik di dalam maupun di luar Arab Saudi, perempuan Saudi terus terdorong kembali melawan kontrol patriarki, menolak untuk berhenti karena ketakutan. Mereka tahu apa yang terus disangkal oleh pemerintah mereka: Tidak ada intimidasi yang dapat sepenuhnya membungkam kebenaran, dan tidak ada ukuran kekejaman yang dapat sepenuhnya menekan dorongan manusia untuk kebebasan.


Opini ini dikutip dari Washington Post, Rabu 9 Januari 2019, ditulis Sarah Aziza, jurnalis dengan spesialisasi soal Timur Tengah, hak asasi manusia, urusan luar negeri, dan gender. Pelaporannya untuk kolom ini didukung oleh Pulitzer Center. Dia dapat diakses di Twitter di @SarahAziza1.


(FJR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG ARAB SAUDI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA OPINI
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 17-01-2019