TOD Jadi Andalan Mengurai Kemacetan di Tangerang

Hendrik Simorangkir - 11 Januari 2019 13:46 wib
Ilustrasi kemacetan, Medcom.id
Ilustrasi kemacetan, Medcom.id

Tangerang: Transit Oriented Development (TOD) menjadi terobosan untuk mengurai kemacetan di Kota Tangerang, Banten. Sistem itu pun diandalkan untuk mengurangi kemacetan dari Tangerang, sebagai kawasan penyangga Ibu Kota, menuju Jakarta.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Tangerang Saeful Rohman menerangkan terobosan itu berupa penyediaan transportasi massal yang terintegrasi dengan Trans Jakarta. TOD berpusat di Terminal Poris Plawad.

Sistemnya yaitu Kota Tangerang menyediakan transportasi massal yang mengangkut penumpang dari Tangerang menuju Jakarta. Di Kota Tangerang, haltenya berlokasi di Terminal Poris Plawad dan Ciledug.

Kemudian bus mengangkut penumpang menuju Ciledug, Bandara Soekarno-Hatta, dan Kalideres. Dari pemberhentian itu, penumpang dapat melanjutkan perjalanan ke beberapa wilayah di Jakarta dengan menggunakan Trans Jakarta.

"Saat ini, ada dua koridor yakni koridor I dengan trayek Terminal Poris-Jatake, dan koridor II Poris-Cibodas. Kedepan akan segera ditambahkan 4 koridor lagi yakni jurusan Pinang, Ciledug, Cadas, Bandara Soekarno Hatta ke Terminal Poris Plawad. Jam kerjanya mulai pukul 05.00-22.00 WIB. Selain mengantar penumpang ke wilayah perbatasan di Jakarta, bus-bus juga mengangkut penumpang dari Jakarta ke Kota Tangerang," ungkap Saeful di Tangerang, Kamis, 10 Januari 2019.

Setiap hari, ujar Saeful, sebanyak 3,1 juta kendaraan melintas menuju Jakarta dari Kota Tangerang pada 2018. Bukan hanya itu, kendaraan pun datang dari Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang. Sebagian besar, pengendara tinggal di kawasan Tangerang namun bekerja di Jakarta.

Jumlah kendaraan itu menurun ketimbang 2017 yaitu 4 juta unit. Saeful mengklaim penurunan kendaraan terjadi lantaran warga telah beralih ke transportasi publik. 

Bukan hanya TOD, Pemkot Tangerang tengah merencanakan induk transportasi daerah sebagai jaringan transportasi umum. Ia mengatakan rencana itu membutuhkan kerja sama antarwilayah di kawasan Tangerang.

Induk transportasi daerah itu akan berlokasi di Poris Plawad. Selain TOD, tujuh layanan moda transportasi akan berpusat di lokasi tersebut yaitu angkutan kota dalam provinsi (AKDP), angkutan kota antarprovinsi (AKAP), TrannsJakarta, kereta comutterline yang menghubungkan Jabodetabek, kereta Bandara Soekarno-Hatta, serta rencana pembangunan LRT dari Serpong. 

"Kawasan transit tingkat kota bersekala nasional itu akan menjadi percontohan pengembangan wilayah lain di Indonesia. Apalagi Terminal Poris Plawad merupakan satu dari tiga terminal yang direncanakan oleh BPTJ (Badan Pengelola Transportasi Jakarta) menjadi TOD," katanya. 

Selain transportasi massal antarkota, Saeful mengatakan, Kota Tangerang menyediakan bus dalam kota yakni Bus Rapid Transit (BRT) Trans Tangerang. Sejak diluncurkan akhir tahun 2016, dengan koridor I Poris Plawad-Jatake, jumlah penumpangnya meningkat setiap bulan. 

Pada pertengahan 2018, koridor II Trans Tangerang pun ditambah, yakni Terminal Poris Plawad-Cibodas. Dan di tahun ini akan ditambah lima koridor lainnya. 

"BRT ini dihadirkan untuk mendorong masyarakat mulai beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal. Itu pun bertujuan untuk mengurai kemacetan," paparnya. 

Saeful menjelaskan, pihaknya pun telah mengoptimalkan lebih dari 200 petugas tiap harinya untuk mengatur dan memberikan tindakan kepada pengendara yang parkir sembarangan karena mengganggu kelancaran lalu lintas. 

"Kami tiap hari mengoptimalkan petugas yang dibagi dalam 13 wilayah kecamatan. Selain itu, kami juga telah menerjunkan tiga mobil derek," ucapnya.



(RRN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG TRANSPORTASI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 23-01-2019