Kiprah Panjang Mbah Ledjar di Seni Pewayangan

Ahmad Mustaqim - 24 September 2017 10:18 wib
Foto pementasan wayang Ledjar Subroto yang bertajuk 'Indonesian Day 2009' di Bremen, Jerman. (MTVN-Mustaqim)
Foto pementasan wayang Ledjar Subroto yang bertajuk 'Indonesian Day 2009' di Bremen, Jerman. (MTVN-Mustaqim)

Metrotvnews.com Yogyakarta: Seniman wayang kancil di Yogyakarta, Ledjar Subroto, meninggal di usia 79 tahun pada Sabtu siang, 23 September 2017. Semasa hidupnya, lelaki kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, 20 Mei 1938 ini mencurahkan hidupnya untuk kesenian wayang. Dalam beberapa waktu terakhir, Mbah Ledjar, sapaan Ledjar Subroto, akrab dengan sapaan dalang Wayang Kancil. 

Kiprah di seni pewayangan Mbah Ledjar dimulai sejak ia masih belia. Saat itu, ia kerap mengikuti seniman wayang di Jawa Tengah pentas di berbagai lokasi. Berangkat dari situ, Ledjar yang kemudian pindah ke Yogyakarta menekuni dunia pewayangan. Lulusan sekolah rakyat ini lalu memproduksi berbagai wayang, dari wayang kontemporer (2002 dan 2004), Wayang Sultan Agung (1987) dan Wayang Kancil. 

“Memang darah seninya, bapak seniman. Sudah tercurahkan sebagai seniman. Dari wayang orang. Lalu pindah Yogyakarta, mandiri menjadi perajin wayang,” ujar Supriantoro, 58, menantu Ledjar ditemui Metrotvnews.com di rumah duka Jalan Mataram Nomor 130 Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta pada Sabtu malam, 23 September 2017. 

Baca: Dalang Wayang Kancil Mbah Ledjar Meninggal

Khusus wayang kancil, Mbah Ledjar seolah menjadi tokoh ikonik dalam wayang tersebut yang diproduksi sejak sekitar tahun 1980. Bukan hanya memproduksi, namun Mbah Ledjar juga mementaskannya di berbagai tempat hingga menjelang akhir hayatnya. Tak hanya di Indonesia, pentas juga dilakukan hingga negeri Kincir Angin Belanda. 

Di Belanda, menurut Supriantoro, Mbah Ledjar biasanya terlibat dalam agenda tahunan pameran Wayang Kancil. Selain wayang Kancil, ketika itu Mbah Ledjar juga melayani pesanan wayang cerita Sultan Agung.

Atas kiprahnya itu, Mbah Ledjar banyak menorehkan penghargaan ketika itu. Penghargaan itu di antaranya Penghargaan Gatra (1995), Penghargaan Seni Pemda DIY (1997), Tokoh terpilih Bidang Seni dan Budaya Kota Yogyakarta (2008), Lifetime Achievement Award Biennale Jogja X 2009, dan beberapa penghargaan lain baik dari dalam negeri maupun luar negeri. 

Berbagai foto penghargaan itu terpampang di kediamannya Mbah Ledjar. Dari bersalaman dengan Presiden Suharto, penghargaan dari Pemerintah DIY, hingga foto pementasannya bertajuk 'Indonesian Day 2009' di Bremen, Jerman. 

“Banyak penghargaan bapak. Dari dalam maupun luar negeri. Bapak juga dapat penghargaan dari Presiden Suharto waktu itu,” kata lelaki yang tinggal di Gamping, Kabupaten Sleman ini. 

Dalam setahun terakhir, Mbah Ledjar tidak begitu banyak terlihat manggung bersama Wayang Kancil-nya. Ia hanya sesekali muncul di publik. Awal Januari 2017, Mbah Ledjar tampil menghibur publik di kawasan wisata Hutan Pinus Imogiri, Bantul. 

“Terakhir bapak main di Kulon progo tiga bulan lalu, pas itu bersama Didik Nini Thowok,” ujar putri kedua Mbah Ledjar, Sulastri. 

Seniman Ledjar Subroto yang lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 20 Mei 1938 meninggalkan tiga orang anak, empat cucu, dan seorang cicit. Keluarga berencana memakamkan jenazah Ledjar di makam seniman di Imogiri, Bantul pada Minggu, 24 September 2017, pukul 13.00 WIB. 
(ALB)

ADVERTISEMENT
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 21-10-2017