22 Desa Banjir, Pati Belum Berstatus Darurat

Rhobi Shani - 13 Februari 2018 16:48 wib
Seorang siswa sekolah dasar mengayuh rakit akibat banjir di Desa Mustokoharjo, Pati, Jawa Tengah, Minggu (12/2/2017). (Ant/Yusuf Nugroho)
Seorang siswa sekolah dasar mengayuh rakit akibat banjir di Desa Mustokoharjo, Pati, Jawa Tengah, Minggu (12/2/2017). (Ant/Yusuf Nugroho)

Pati: Sebanyak 22 desa di lima kecamatan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terendam banjir selama sepekan. Di sejumlah titik, ketinggian air yang merendam permukiman warga mencapai 40 sentimeter. Namun, kondisi tersebut belum masuk status darurat.
 
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Sanusi Siswoyo, menyampaikan meski banyak desa yang terendam banjir, status darurat belum dikeluarkan pemerintah Kabupaten Pati. Pasalnya, sejumlah faktor belum memenuhi persyaratan untuk mengeluarkan status darurat. 
 
“Kalau wilayah yang terkena banjir itu sepertiga wilayah kecamatan, kemudian ada rumah yang hanyut, dan korban jiwa baru status itu bisa dikeluarkan,” terang Sanusi, Selasa, 13 Februari 2018.

Sanusi melanjutkan, penanganan korban banjir dan peristiwa bencana lainnya tidak menggunakan anggaran tak terduga karena status darurat belum dikeluarkan. Pemkab Pati tahun ini menyiapkan anggaran tak terduga sebanyak Rp5 miliar. Untuk menangani bencana kali ini, BPBD Pati menggunakan anggaran operasional.

“Itu sebabnya anggaran operasional kami naik dari tahun kemarin yang hanya Rp1 miliar lebih, tahun ini menjadi Rp2 miliar. Jadi, untuk menangani korban banjir saat ini menggunakan dana operasional dan anggaran dari dinas-dinas,” beber Sanusi.

Untuk mengurangi dampak banjir, Sanusi menambahkan, Pemkab Pati menawarkan relokasi dan transmigrasi bagi masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Juwana. Yaitu, 300 kepala keluarga di Desa Banjarasri, Kecamatan Gabus, dan 70 kepala keluarga di Dukuh Pengging Wangi, Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo.
 
“Sudah ditawari transmigrasi, tapi tidak mau. Alasannya tidak mau meningglakan tempat tinggalnya karena dekat dengan lahan pertanian,” kata Sanusi.


(LDS)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG BENCANA BANJIR
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 23-02-2018