Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.400.516.227 (19 JUNI 2018)

Orangtua Perjuangkan Anindya Tetap Ujian di SMAN 1 Semarang

Budi Arista Romadhoni - 05 Maret 2018 18:43 wib
Ilustrasi pendidikan, Medcom.id - Rakhmat Riyandi
Ilustrasi pendidikan, Medcom.id - Rakhmat Riyandi

Semarang: Suwondo bolak balik mencari dukungan agar putrinya, Anindya Puspita Helga Nur Fadhila, dapat tetap menjalani Ujian Nasional 2018 di SMAN 1 Semarang, Jawa Tengah. Perjuangan Suwondo berat lantaran putrinya dikeluarkan dari sekolah terkait dugaan kasus kekerasan.

Anindya duduk di bangku kelas XII SMAN 1 Semarang. Seharusnya, ia mengikuti ujian nasional dua bulan mendatang.

Sebagai siswa, Suwondo menilai putrinya aktif dalam kegiatan sekolah dan berprestasi. Anindya aktif sebagai anggota OSIS. Putrinya juga berprestasi di olahraga voli.

Tapi, jalan Anindya mengikuti ujian nasional mengalami rintangan. Pihak sekolah menuduhnya melakukan tindakan kekerasan saat Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) calon pengurus baru OSIS. Sekolah memutuskan Anindya dikeluarkan.

Suwondo tak terima dengan keputusan itu. Memang, kata Suwondo, ia bukanlah pegawai, apalagi pejabat. Sehari-hari, ia hanya menjual roti. 

"Tapi demi anak, saya akan berjuang agar anak saya bisa ujian di SMAN 1 Semarang. Anak saya tidak salah. Sekolah yang lepas tangan," kata Suwondo ditemui di rumahnya di Semarang, Senin, 5 Februari 2018.

Suwondo ingin mencari kebenaran atas kejadian tersebut. Ia juga telah mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi atas perjuangannya itu.

Tapi, kata Suwondo, putrinya adalah remaja yang kuat. Anindya belajar di rumah dan mengikuti uji coba ujian. Anindya juga masih sering latihan bola voli di klub Tugu Muda Semarang.

"Secara psikis, ia terganggu dengan keputusan sekolah. Kelihatannya sih dia masih segar, masih semangat belajar. Hanya saja belakangan, ia agak temperamental," lanjut Suwondo.

Baca: Kepsek Keluarkan Dua Siswa Dianggap Langgar UU Perlindungan Anak

Anindya merupakan satu dari dua siswa yang dikeluarkan dari SMAN 1 Semarang terkait dugaan kekerasan. Seorang siswa lain yaitu Muhammad Afif Ashor. Pihak sekolah kemudian memberikan pilihan pada mereka untuk pindah ke SMAN 11 atau SMAN 13 Semarang. Namun kedua siswa enggan pindah. Sebab, sudah sejak lama mereka bercita-cita sekolah di SMAN 1 Semarang.



(RRN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KEKERASAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 20-06-2018