DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK, Dana Terkumpul RP 20.111.547.901 (22 SEP 2018)

Pernikahan Dini Dominasi Penyebab Balita Stunting di Gunungkidul

Ahmad Mustaqim - 14 Maret 2018 16:50 wib
ilustrasi Medcom.id
ilustrasi Medcom.id

Gunungkidul: Perkara pernikahan dini menjadi penyebab dominan ribuan balita di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami stunting. Angka balita stunting di Gunungkidul konsisten tinggi setiap tahunnya. 

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Kartini mengatakan, pernikahan dini yang dilakukan remaja usia 14-18 tahun berkontribusi 30 persen terhadap jumlah balita stunting. Tiap tahun, ada sekitar 6.200 balita di Gunungkidul mengalami stunting. 

"Angka balita stunting di Gunungkidul masih dalam kisaran angka tersebut. Angka kelahiran bayi pada 2017 ada 8.965 bayi, sedangkan total balita saat ini ada 39.773. 20,6 persennya mengalami stunting," ujar Kartini saat dihubungi Medcom.id pada Rabu, 14 Maret 2018. 

Berdasarkan Data Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul, angka putus sekolah memang masih menjadi problem. Dari sebanyak 57 ribu anak di sekolah dasar (SD), 17 anak di antaranya mengalami putus sekolah. Untuk kategori SMP, dari 27 ribu anak sekolah, delapan diantaranya putus sekolah. 

Untuk SMA sederajat, dari 27 ribu anak, lima diantaranya putus sekolah. Meskipun, beragam alasan melatarbelakangi masalah itu, seperti faktor ekonomi yang kemudian mendorong terjadinya pernikahan dini. 

Kartini menyatakan, wilayah yang terdapat banyak balita stunting ada di Kecamatan Rongkop, Gedangsari, dan Semanu. Selain itu, masih ada di sejumlah kecamatan lain. 

"Balita yang lahir akibat pernikahan dini ini akrab lahir tak sempurna dan tumbuhnya lambat. Dimulai ketika lahir hanya memiliki panjang kurang dari 48 sentimeter, menjadi kerdil," ungkapnya. 

Ia juga menjelaskan, balita stunting di Gunungkidul juga diakibatkan ibu hamil yang kekurangan sel darah merah atau anemia. Kemudian, ada pula ibu hamil yang kekurangan makanan tambahan. 

Menurutnya, Pemkab Gunungkidul terus mengupayakan berbagai langkah lintas sektor untuk menekan balita stunting. Mulai dari puskesmas, posyandu, hingga PKK. 

"Kami lakukan penyuluhan agar balita stunting diberi ASI eksklusif diusia 0-6 bulan. Usia berikutnya diberi pendamping makanan tambahan. Perhatian kepada ibu hamil agar kebutuhan gizi terpenuhi juga kami lakukan," kata dia. 

Selain itu, ia menambahkan, Dinas Kesehatan Gunungkidul juga melibatkan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam menyediakan air bersih. Sebab, air bersih juga bisa menjadi salah satu faktor kesehatan ibu hamil serta balitanya usai melahirkan. 

"Stunting kan tak semata itu. Kadang kekurangan air bersih juga bisa menjadi penyebabnya. Kami berharap bisa terus menekan angka balita stunting," jelasnya. 



(ALB)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG GIZI KURANG
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 24-09-2018