DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Permukiman di DIY Berdiri di Atas Dua Sesar

Ahmad Mustaqim - 12 Oktober 2018 14:06 wib
Ilustrasi gempa, Medcom.id - M Rizal
Ilustrasi gempa, Medcom.id - M Rizal

Yogyakarta: Dua sesar berpotensi menimbulkan gempa di DI Yogyakarta. Lokasi kedua sesar berada di bawah permukiman.

Manajer Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Danang Samsurizal menyebutkan dua sesar itu yaitu Sesar Opak dan Sesar Progo. Sesuai namanya, Sesar Opak berada di Sungai Opak dan Sesar Progo melintasi Sungai Progo.

Keberadaan Sesar Opak diketahui sejak 2006. Saat itu, Sesar Opak dikaitkan dengan gempa yang terjadi di Kecamatan Imogiri. Ribuan orang meninggal dan ribuan rumah rusak.

"Ini karena DIY dekat lempeng benua yang di laut selatan. Aktivitas geologi tinggi, termasuk gerakan tanah," kata Danang ditemui Medcom.ID di ruang kerjanya, Jumat, 12 Oktober 2018. 

Ia menjelaskan, aktivitas sesar Opak yang menyebabkan gempa pada 2006 itu bukan karena pergeseran, melainkan penaikan. Dampak gempa terlihat besar karena sesar berada di bawah permukiman penduduk. 

Tak hanya Imogiri, dampak gempa juga dirasakan di Kecamatan Berbah, Prambanan, hingga sebagian wilayah Klaten, Jawa Tengah. "Gempa bumi ini kan dampaknya luas, tak hanya di titik sumber gempa," katanya. 

Sesar Progo belum terdeteksi gempa dengan skala besar. Danang mengatakan, para geolog memperkirakan sesar Progo juga memiliki potensi gempa yang hampir sama dengan sesar Opak. 

"Sesar Progo belum tersingkap. Belum pernah jadi gempa besar. Masih diindikasi, tapi itu sudah kita deteksi," ujarnya. 

Menurut Danang, BPBD DIY terus berupaya memberikan mitigasi bencana kepada warga di kawasan dua sesar tersebut. Materi mitigasi bencana yang pertama yakni soal langkah yang harus diambil warga saat terjadi gempa. 

Selain itu, pihaknya juga menyosialisasikan pembuatan bangunan rumah yang tahan gempa. Tak hanya sosialisasi, BPBD juga melatih tukang bangunan tentang konsep bangunan rumah yang tahan gempa. 

"Lalu ada juga desa tangguh bencana atau Destana, ini memperkuat jejaring apabila terjadi gempa, sehingga korban tak banyak. Kami kerja sama juga dengan sektor kesehatan, sosial, dan sektor lainnya," ungkap Danang. 

Menurut Danang, pelatihan membuat rumah tahan gempa dilakukan periode setahun sekali. Mereka yang jadi target sosialisasi dan pelatihan dari pengurus desa hingga warga. "Kami juga membuat pemetaan daerah rawan gempa," ujarnya. 

Ia menambahkan, ada periode pengulangan potensi terjadi gempa dari masa sebelumnya. Sehingga, hal tersebut tak bisa diprediksi pasti kapan gempa terjadi. 

"Dalam sejarahnya kan wilayah Kerajaan Mataram banyak sekali diguncang gempa. Artinya, kita tak bisa menghindari gempa. Yang bisa kita lakukan meningkatkan kesiapsiagaan setiap saat," tuturnya. 


(RRN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG GEMPA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 10-12-2018