DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.052.810.215 (14 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Ribuan Nelayan di Tegal Menganggur

Kuntoro Tayubi - 12 Juli 2018 16:25 wib
Nelayan Tegal, Jawa Tengah, memperbaiki jaring penangkapan ikan. (Medcom.id /Kuntoro Tayubi)
Nelayan Tegal, Jawa Tengah, memperbaiki jaring penangkapan ikan. (Medcom.id /Kuntoro Tayubi)

Tegal: Ratusan kapal yang berkapasitas di atas 30 gross ton (GT) di Kabupaten Tegal dan Kota Tegal tak bisa melaut. Hingga kini, kapal pencari ikan dan cumi itu masih bersandar di Pelabuhan Kota Tegal dan beberapa pelabuhan lainnya. 

Ketua Paguyuban Nelayan Lancar (Nalar) Pusat Muji Wahyudi mengatakan bersandarnya kapal lantaran nelayan terhambat dengan proses pembuatan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI). Padahal, para pemilik kapal itu sudah membayar Pungutan Hasil Perikanan (PHP) kepada negara.

"Semua persyaratan sudah dipenuhi, tinggal menunggu tanda tangan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tapi sampai sekarang belum ditandatangani," kata Muji Wahyudi, saat memberikan diklat Basic Safety Training (BST) kepada para nelayan di Aula SPBU Muri Dampyak, Kramat, Kabupaten Tegal, Kamis, 12 Juli 2018. 

Dia menjelaskan kapal bisa melaut setelah mengantongi SIPI dan Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP). Namun, Kementerian Kelautan dan Perikanan sepertinya mempersulit penerbitan surat tersebut. 

Sejauh ini, sudah ada 200 pemilik kapal di Kabupaten Tegal dan Kota Tegal yang sudah mengurus SIPI. Mereka bahkan sudah membayar PHP dengan nominal yang cukup besar. Mayoritas di atas Rp60 juta.

"Uang (PHP) itu sudah dibayarkan dan sudah masuk ke kas negara. Tapi dari kementerian KP belum menandatangani SIPI-nya. Nelayan dan pemilik kapal sudah banyak yang mengeluh," ungkapnya.

Menurut Muji, permasalahan itu tidak hanya dialami nelayan Kabupaten Tegal dan Kota Tegal. Tapi hampir semua nelayan di Indonesia. Di antaranya, Brebes, Pemalang, Pekalongan, Batang, Semarang, Cirebon, Bali, dan beberapa daerah lainnya. Jika dijumlah total sekitar 900 kapal yang sudah mengajukan SIPI. 

Dengan begitu, jumlah nelayan yang saat ini menganggur mencapai puluhan ribu orang. Mereka terpaksa tidak bisa melaut karena kapal yang akan digunakan belum mengantongi surat resmi. 

"Padahal kapal yang akan digunakan tidak menggunakan alat tangkap jenis cantrang. Mereka menggunakan gillnet (jaring insang), purse seine, dan cumi. Tapi malah dipersulit," keluhnya.

Dia berharap Kementerian Kelautan dan Perikanan segera menerbitkan SIPI yang sudah diajukan oleh pemilik kapal sejak dua bulan silam. Dia tidak ingin ada gejolak karena sebentar lagi akan berlangsung pemilihan presiden (pilpres).

"Perizinan harus secepatnya dikeluarkan karena pengangguran semakin banyak," tandasnya.

Sementara, salah satu pemilik kapal, Darso, 56, warga Kabupaten Tegal membenarkan jika pembuatan SIPI di Kementerian Kelautan dan Perikanan kerap dipersulit. Dia mengaku sudah mengajukan SIPI sejak dua bulan lalu. Namun, hingga kini SIPI tersebut belum ditandatangani oleh Menteri Kelautan dan Perikanan.

"Kalau kapal kami tidak berangkat, para ABK (anak buah kapal) kami terpaksa menganggur. Padahal, keluarga mereka hanya ditopang dari melaut. Kalau begini terus, kami harus mengadu ke mana," keluhnya.


(ALB)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG NELAYAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 21-11-2018