Petani Bawa Gunungan Tembakau Lawan Tekanan Internasional

Ahmad Mustaqim - 29 Oktober 2016 12:13 wib
Gunungan tembakau dalam aksi petani tembakau di Yogyakarta. Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Gunungan tembakau dalam aksi petani tembakau di Yogyakarta. Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Ratusan petani tembakau dan cengkeh menggelar aksi peringatan hari tembakau di kawasan wisata Malioboro Yogyakarta, Sabtu 29 Oktober 2016. 

Para petani tembakau dan cengkeh tersebut berasal dari sejumlah organisasi, seperti Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), Karya Tani Manungal (KTM) Temanggung, serta Gerakan Masyarakat Tembakau Indonesia (GEMATI).

Para petani tersebut melakukan long march dari Taman Parkir Abu Bakar Ali melawati Jalan Malioboro hingga di depan Benteng Vredeburg Yogyakarta. Dalam aksi itu, para petani membawa gunungan tembakau serta sejumlah atribut, seperti spanduk yang berisi seruan agar pemerintah melindungi petani tembakau.

Ketua Umum APTI, Soeseno, mengatakan petani tembakau dan cengkeh berada dalam tekanan internasional dengan adanya Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Menurutnya, pemerintah Indonesia harus melindungi dan memajukan industri hasil tembakau dari petani. "Tembakau dan cengkeh ini penting bagi masyarakat Indonesia," kata Soeseno.

Ia berpendapat komoditas tembakau dan cengkeh menjadi salah satu aspek yang ikut membantu dalam membangun kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat. "Ada jutaan warga Indonesia yang menggantungkan hidup dari pertanian tembakau," ucapnya. 

Ketua APTI DIY, Djuwari, mengungkapkan tembakau dan cengkeh memiliki nilai ekonomi tinggi bagi petani yang menanam. Kendati begitu, ia mengakui jika potensi besar itu masih belum maksimal karena tak optimalnya produktivitas, termasuk dalam hal pengolahan.

"Kami memerlukan bantuan dari pemerintah, ya seperti pendampingan teknis, akses permodalan, dan pembangunan infrastruktur pertanian yang sesuai kebutuhan tembakau," ujarnya. 

Ia menambahkan, tekanan internasional melalui FCTC telah mengancam petani tembakau dan cengkeh yang dilindungi UU Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman yang membebaskan hak petani memilih tanaman. Selain itu, lanjutnya, FCTC juga berpotensi besar melemahkan daya saing tembakau dari Indonesia.

"Tembakau asal Indonesia bisa kalah bersaing kalau penjualannya tanpa disertai merek. Belum lagi soal larangan interaksi antara pemangku kepentingan industri hasil tembakau dengan para pembuat kebijakan. Pemerintah harus melindungi kami," kata dia.

Usai menggelar long march, para petani tersebut berkumpul di Monumen Serangan Umum 1 Maret yang berdekatan dengan Benteng Vredeburg. Mereka juga berencana menyerahkan sebuah petisi kepada Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X.


(UWA)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PETANI TEMBAKAU
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 30-05-2017