Budayawan Darmanto Jatman Tutup Usia

Gabriela Jessica Restiana Sihite - 14 Januari 2018 00:08 wib
Darmanto Jatman. Foto: Kemendigbud.go.id
Darmanto Jatman. Foto: Kemendigbud.go.id

Semarang: Budayawan yang juga akademisi Universitas Diponegoro Semarang Darmanto Jatman tutup usia pada Sabtu sore di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi Semarang. Darmanto meninggal dunia di usia 75 tahun karena sakit.

"Beliau meninggal sekitar pukul 17.00 WIB di RSUP dr Kariadi Semarang. Sebelumnya, sudah mengalami stroke," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Humas Undip Nuswantoro Dwiwarno seperti dikutip dari Antara, Minggu 14 Januari 2017.

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari pihak keluarga, kata Nuswantoro, guru besar emeritus Undip tersebut dirawat di RS sejak 3 Januari 2018 karena kondisinya yang drop dan terkena infeksi kandung kemih.

Wafat pada usia 75 tahun, Darmanto yang sedemikian dikenal kiprahnya dalam dunia sastra dan seni itu meninggalkan seorang istri, Sri Maryati yang dinikahinya sejak 1970 dan lima orang anak.

Darmanto yang lahir di Jakarta, 16 Agustus 1942 tercatat sebagai perintis dan pendiri Jurusan Psikologi Undip. Ia juga menjadi kepala program studi, dan dikukuhkan sebagai guru besar pada usia 65 tahun.

Namun, Nuswantoro menjelaskan sosok yang akrab disapa Darmanto JT itu juga pernah mengajar di sejumlah fakultas, seperti Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip.

"Sebagai pengajar di Fakultas Psikologi Undip, beliau meletakkan dasar tentang pentingnya peran keluarga dalam perkembangan kejiwaan. Psikologi keluarga sekarang ini menjadi kekhasan Fakultas Psikologi Undip," kata dia.

Meski sebagai pengajar psikologi, darah seni yang dimiliki jebolan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu tetap mengalir, antara lain pernah mendirikan Teater Kristen Yogya dan Studiklub Sastra Kristen Yogya.

Kumpulan sajaknya juga diterbitkan, seperti Sajak-Sajak Putih (1965) bersama Jajak MD dan Dharmadi Sosropuro, Sajak Ungu (1966) bersama A. Makmur Makka, dan pernah menyutradarai beberapa pementasan teater.

Darmanto kerap diundang untuk membacakan puisinya di forum-forum internasional, seperti Festival Puisi Adelaide, Austria (1980), International Poetry Reading di Rotterdam, Belanda (1983) yang kemudian dibukukan.

Tercatat, banyak sekali karya sastra Darmanto, seperti Sajak-Sajak Putih (1968), Bangsat (1975), Sang Darmanto (1975), Ki Blaka Suta Bla Bla (1980), Karto Iyo Bilang Boten (1981), Golf Untuk Rakyat (1995), dan Darmanto Bilang: Sori Gusti (2002).

Darmanto juga pernah meraih berbagai penghargaan, yakni Piagam Kepala Pusat Bahasa Depdiknas untuk Penulisan Karya Sastra di bidang Puisi (2002), The SEA Writer Award (2002), Anugerah Satyalencana Karya Satya (2002), dan Anugerah Satyalencana Kebudayaan dari pemerintah Indonesia (2010).

Saat ini, jenazah Darmanto disemayamkan di rumah duka Jalan Menoreh Raya No 75 Semarang dan rencananya akan dimakamkan di Pemakaman Undip.



(SCI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG TOKOH SASTRAWAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sun , 22-04-2018