Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.400.516.227 (19 JUNI 2018)

JK: Indonesia Kritis Stunting

Pythag Kurniati - 12 Maret 2018 15:30 wib
Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengunjungi Posyandu di Kota Solo, Jawa Tengah, Senin, 12 Maret 2018. Foto: Medcom.id/Pythag Kurniati
Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengunjungi Posyandu di Kota Solo, Jawa Tengah, Senin, 12 Maret 2018. Foto: Medcom.id/Pythag Kurniati

Solo: Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan Indonesia berkondisi kritis stunting. JK, sapaanya, menyampaikan hal ini dalam kunjungannya di Posyandu Permata Bunda, Kelurahan Manahan, Banjarsri, Solo, Jawa Tengah.

Stunting adalah kondisi anak tidak tumbuh berkembang sesuai keadaan normal. Anak yang mengalami stunting tidak memiliki tinggi tubuh atau berat sesuai usianya.

"Indonesia termasuk kritis stunting. Kita di dunia ini termasuk yang tinggi (angka stunting)," ungkap Jusuf Kalla, Senin, 12 Maret 2018.

Mengacu riset kesehatan dasar, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 37,2 persen dari keseluruhan jumlah anak. Indonesia bahkan sudah mendapat peringatan dari Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO).

Stunting dipengaruhi beberapa hal. JK menilai, anak tanpa gizi yang cukup serta lingkungan yang baik akan terancam terkena stunting. Jika dua hal tersebut tidak segera ditangani, kasus yang disebabkan kekurangan gizi ini akan sulit dientaskan.

"Itu berbahaya bagi generasi muda kita," jelas dia.

495 Anak di Solo Stunting

Sebanyak 495 anak di Kota Solo, Jawa Tengah mengalami masalah stunting. Jumlah tersebut setara 3,2 persen dari total anak berusia di bawah dua tahun di kota bengawan.

"Jumlah anak di bawah dua tahun kita ada sekitar 15.191. Dari jumlah itu 3,2 persennya mengalami persoalan stunting,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta Siti Wahyuningsih..

Dibanding angka prevelensi stunting secara nasional, angka stunting di Kota Solo termasuk rendah. "Namun, bagi saya itu adalah pekerjaan rumah. Artinya masih ada masalah," beber Siti.

Persoalan stunting ini, lanjutnya, tidak bisa semata-mata dientaskan dari sisi bidang kesehatan saja. Sebab, penyebab stunting bermacam-macam, hingga menyentuh kehidupan sosial keluarga.

“Bisa faktor sanitasi, ekonomi. Kalau keluarganya menganggur mau makan gizi apa,” beber dia. Guna mengatasi persoalan tersebut, ia mengajak semua pihak dari berbagai sektor bergandeng tangan mengentaskan persoalan stunting.

 


(SUR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG GIZI KURANG
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 20-06-2018