Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.408.300.797 (20 JUNI 2018)

Edukasi Pemanfaatan Bahan Pangan Lokal, UKWMS Gelar NFTC 2018

Pelangi Karismakristi - 11 Juni 2018 13:50 wib
Tiga mahasiswa UKWMS memamerkan buah karyanya, yakni rainbow noodle. Foto: Dok. UKWMS
Tiga mahasiswa UKWMS memamerkan buah karyanya, yakni rainbow noodle. Foto: Dok. UKWMS

Surabaya: Indonesia memiliki aneka ragam komoditas yang dapat digunakan sebagai sumber pangan. Namun karena ketergantungan terhadap beberapa komoditas pangan ini, menyebabkan Indonesia melakukan impor guna memenuhi kebutuhan masyarakat. 

Hal itu juga akibat keterbatasan pemanfaatan bahan pangan lokal. Inilah masalah yang harus diatasi. Mestinya, masyarakat dapat mengonsumsi berbagai jenis bahan pangan, serta perlu memanfaatkan bahan pangan lokal dengan baik.

Dalam rangka mewadahi dan memotivasi mahasiswa dalam mengembangkan ilmu dan teknologi pangan, BEM Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FTP UKWMS) kembali menyelenggarakan National Food Technology Competition (NFTC), Sabtu, 9 Juni 2018 di area West Rotunda, Grand City Mall Surabaya, Jawa Timur.

"Salah satu cara untuk mengatasinya (impor) adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan bahan pangan lokal yang ada, untuk menghasilkan produk pangan yang lebih bervariasi dan berkualitas. Mengoptimalkan bahan pangan lokal tidak melulu tugas para peneliti atau pemerhati pangan, namun juga generasi muda termasuk mahasiswa harus turut mengambil peran," ucap Ketua Pelaksana NFTC 2018 Teresia Imaculata.

Acara yang mengangkat tema Diversifikasi Pangan Berbasis Bahan Pangan Lokal untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional ini, memamerkan beberapa komoditas pangan yang disulap menjadi aneka penganan lezat dan bergizi tinggi. Antara lain kwetiau beras hitam, hash brown singkong, dan rainbow noodle yang menggunakan pewarna alami di antaranya daun suji, buah naga, kunyit, dan karbon aktif. 

Kreasi pertama adalah kwetiaw dari beras hitam karya Chatarina Jenny, Alvina Handoyo dan Rexy Dwi Akbar. Pemilihan beras hitam ini karena dikenal dengan manfaatnya, yakni mengelola berat badan, rendah lemak dan kalori, melancarkan pencernaan hingga mencegah penyakit kardiovaskular.

"Sehingga dengan mengkonsumsi kwetiau beras hitam ini, ada beragam manfaat yang didapat oleh tubuh dan aman dikonsumsi bagi yang ingin memiliki bentuk badan ideal. Lagipula kwetiau ini bisa langsung dikonsumsi usai melalui proses masak. Tak ketinggalan pula, melalui inovasi ini kami ingin menunjukkan kalau beras hitam yang langu bisa dikreasikan menjadi kwetiau ," ucap Rexy. 

Selanjutnya ada pembuatan hash brown singkong. Umumnya hash brown terbuat dari kentang, namun di tangan Martha Christina, Maria Marcella dan Fransiscus Sobatino, penganan ini diciptakan dari singkong. Bahan dasar ini dipilih karena selama ini pemanfaatannya cenderung untuk jajanan tradisional, seperti singkong goreng, jemblem, kripik dan lainnya. 

"Dengan pemanfaatan singkong menjadi hash brown akan meningkatkan nilai ekonomisnya, sehingga inovasi untuk singkong pun bisa beragam. Walaupun menggunakan singkong, baik rasa dan tekstur tak kalah nikmat dengan hash brown berbahan kentang," terang Maria. 

Ada pula pembuatan rainbow noodle yang menggunakan pewarna alami seperti daun suji, buah naga, kunyit dan karbon aktif. Sicilia Liem, Noval Pebri dan Jane Nathania memilih rainbow noodle karena makanan warna-warni lebih menarik secara visual dan menjadi tren makanan tahun 2018.

"Seluruh pewarna yang kita gunakan mulai dari daun suji, buah naga, kunyit dan karbon aktif aman untuk dikonsumsi untuk tubuh. Bahkan, ada beragam manfaat bagi tubuh karena nutrisi dari produk mie ini meningkat yakni mulai vitamin hingga antioksidan," ucap Jane Nathania sembari menunjukkan hasil rainbow noodle. 

(ROS)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG BEASISWA OSC
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 20-06-2018