DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK, Dana Terkumpul RP 12.968.610.192 (19 AGUSTUS 2018)

Penyebab Kurang Gizi di Asmat Mulai Terungkap

Lukman Diah Sari - 10 Februari 2018 17:41 wib
Penanganan pasien di RSUD Agats, Papua. (ANT/M Agung Rajasa)
Penanganan pasien di RSUD Agats, Papua. (ANT/M Agung Rajasa)

Agats: Masalah kekurangan gizi di Distrik Agats, Papua, masih berlanjut. Guru besar Ilmu Gizi Universitas Hasanuddin Makassar, Nurpudji Taslim, membeberkan sejumlah masalah penyebab kekurangan gizi di distrik Agats. 

"Masalah utama kurang gizi karena masyarakat asli sudah tidak memproduksi sagu. Karena ada pembagian beras raskin yang mereka tunggu dan dapat setiap bulan," kata Nurpudji melalui keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Sabtu, 10 Februari 2018. 

Nurpudji menuturkan, sebelumnya masyarakat Agats mengonsumsi sagu dengan ikan. Namun, kini masyarkat Agats mengonsumsi beras raskin dengan mi instan. 

"Sudah terjadi pergeseran pola makan yang luar biasa. Dulu mereka makan sagu dengan ikan, kini makan nasi dengan mi instan sebagai lauk," ujarnya.

Nurpudji mengungkapkan, saat terjadi keterlambatan beras, masyarakat membeli sagu yang dibuat pendatang dengan harga mahal. 

"Intinya, kebijakan pemerintah mengubah pola makan berbasis pangan lokal dengan beras raskin harus diubah. Itu menimbulkan banyak masalah," kata Nurpudji yang kini berada di Agats bersama Tim Medis dan Kesehatan Universitas Hasanuddin.

Selain itu, kekurangan gizi di Agats juga berkait dengan Pilkada Papua 2018. Masyarakat, kata Nurpudji, dijanjikan akan dipenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga, masyarakat hanya menunggu dan menjadi malas.

"Masalah ketiga, dulu sebelum pemekaran tenaga puskesmas dan puskesmas pembantu sedikit tidak ada masalah gizi kurang. Saat ini banyak tenaga kesehatan dan banyak pustu namun banyak masalah, kenapa?" tanya dia. 

Masalah keempat, lanjut Nurpudji, budaya paternalisme masih sangat kuat. Suami dan laki-laki hanya berdiam di rumah sementara para perempuan dan ibu hamil harus memenuhi kebutuhan rumah tangga. 

"Perempuan dan ibu hamil membelah kayu, cari sayur dan mengasuh anak, rata-rata tensi ibu hamil sekitar 90/ 70mmHg, mereka menderita anemia yang berdampak pada anak yang dilahirkan," ujarnya.

Kelima, kata dia, berdasar penelusurannya banyak anak di Agats enggan sekolah. Dia pun tak menemukan jawaban dari anak-anak di Agats alasan malas dan merasa tidak perlu sekolah. 

Terakhir, kata dia, masalah lingkungan. Nurpudji menuturkan, di kawasan Agats belum peduli kebersihan. Banyak sampah bertebaran di sekitar rumah yang berada di rawa-rawa. 

Selain itu, kata Nurpudji, masyarakat asli sangat bergantung dengan air hujan. Saat tidak turun hujan, masyarakat mengonsumsi air rawa yang bercampur dengan air buangan kamar mandi yang juga berfungsi sebagai toilet. 

"Intinya, kebijakan pemerintah harus diubah. Pemberian raskin serta otsus dengan memberi uang bukan keterampilan sama dengan membuang garam di laut," tegasnya. 

Baca: Dana Otsus Papua 2018 Mencapai Rp8 Triliun

Distrik Agats adalah sebuah distrik di Kabupaten Asmat, yang berdiri di atas rawa-rawa dan dihubungkan satu sama lain dengan papan. Papan itu dirangkai menjadi jalan dengan lebar 4 meter untuk jalan utama dan 1,3 meter untuk jalan kecil. 
 


(LDS)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PAPUA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA DAERAH
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 20-08-2018