Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.676.534.291 (20 JULI 2018)

NTB Dapat Rp16 Miliar Kembangkan Sentra Garam

Antara - 13 April 2018 18:17 wib
Petani memanen garam di Kawasan Penggaraman Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah.. (ANTARA/Mohamad Hamzah)
Petani memanen garam di Kawasan Penggaraman Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah.. (ANTARA/Mohamad Hamzah)

Mataram: Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp16 miliar dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pengembangan usaha garam rakyat sistem integrasi lahan pada 2018.

"Alokasi anggaran tersebut untuk pengembangan sentra garam nasional yang ada di Kabupaten Lombok Barat, Sumbawa dan Bima," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Lalu Hamdi di Mataram, Jumat, 13 April 2018.

Ia mengatakan pengembangan usaha garam rakyat sistem integrasi lahan di Kabupaten Bima, seluas 80 hektare (ha) atau 4 blok dengan melibatkan empat kelompok petani garam. Sedangkan di Sumbawa, seluas 70 ha dan Lombok Barat seluas 15 ha.

Lebih lanjut, Hamdi menambahkan teknis pemanfaatan lahan tambak dibuat blok-blok. Satu petak blok minimal luasnya 15 ha. Semuanya dikonstruksi dengan sistem ulir.

Pola produksi garam dengan sistem tersebut untuk menyaring zat-zat yang tidak dibutuhkan dalam proses pembuatan garam rakyat.

Air laut yang masuk ke blok satu akan diendapkan selama beberapa hari, kemudian dialirkan ke blok berikutnya dan berakhir di blok enam yang merupakan petakan terakhir yang akan menghasilkan garam berkualitas dari air laut "tua" atau yang sudah melalui proses pengendapan hingga satu bulan.

"Sistem integrasi lahan sudah diuji coba di daerah lain. Bima sebenarnya juga sudah uji coba di lahan 1 ha, tidak hanya untuk mendapatkan garam berkualitas, tapi produksi terus menerus," ujarnya.

Untuk membuat konstruksi petakan lahan garam, kata dia, akan dilakukan oleh pihak ketiga yang memenangkan tender. Termasuk juga untuk pengadaan peralatan yang dibutuhkan.

Pihak ketiga harus melakukan pekerjaan sesuai dengan spek yang sudah ditentukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, agar dalam satu hektare lahan bisa menghasilkan garam rakyat sebanyak 100 ton per tahun.

Hamdi menambahkan garam yang dihasilkan tidak hanya dinilai dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitasnya harus bagus, baik dari segi warna putih, kandungan NACL lebih dari 70 persen dan tekstur harus sesuai standar.

"Garam rakyat yang dihasilkan nantinya untuk memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi," ucapnya pula.

Ia berharap dengan program pengembangan usaha garam rakyat sistem integrasi lahan akan mampu menghasilkan produksi sesuai target sebanyak 170 ribu ton pada 2018, atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebanyak 160 ribu ton, namun realisasinya 104 ribu ton akibat cuaca ekstrem.


(ALB)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG GARAM
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA DAERAH
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 21-07-2018