Kisah Karmila yang Selamat dari Kecelakaan Tanjakan Emen

Farhan Dwitama - 13 Februari 2018 10:40 wib
Karmila, 44, korban kecelakaan tanjakan Emen yang selamat menceritakan kronologis bus nahas yang dia tumpangi, Senin, 12 Februari 2018. Foto: Medcom.id/Farhan Dwitama
Karmila, 44, korban kecelakaan tanjakan Emen yang selamat menceritakan kronologis bus nahas yang dia tumpangi, Senin, 12 Februari 2018. Foto: Medcom.id/Farhan Dwitama

Tangerang: Karmila, 44, tak bisa menahan rasa haru dan syukur saat selamat dari maut dalam kecelakaan bus di tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat, pada Sabtu, 10 Februari 2018. Betapa tidak, 26 rekan dan keluarganya meninggal dalam kecelakaan tersebut.

“Alhamdulillah, Allah masih sayang sama saya, suami dan anak-anak saya,” kata dia ditemui di kediamannya di Legoso, Tangerang Selatan.

Mila, sapaan akrabnya, menyebut ia pergi bersama 151 orang yang terdiri dari anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Permata, kader posyandu dan PKK di Kelurahan Pisangan, Kecamatan Ciputat Timur.

Milla diantar suami ke titik kumpul keberangkatan sekitar pukul 05.30 WIB. Saat berangkat dia mengaku tak mendapat firasat aneh-aneh. Dia hanya merasa tak nyaman dengan kondisi bus yang dianggapnya jalan sangat pelan.

Tanpa harus menjadi beban fikirnya, Mila berusaha menikmati perjalanan bersama para kerabat, tetangga dan sebagian besar yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya.

"Ibu-ibu naik bus ya sudah, kita ngobrol ketawa cekikikan, kita foto-foto, selfie segala macam," ucap dia.

Karena macet, rombongan tiba di sebuah rumah di Lembang untuk makan siang dan menggelar RAT sekitar pukul 13.00 WIB. Kemudian rombongan bergegas dan mampir ke untuk berbelanja oleh-oleh selepas rapat. Sekitar 16.30 WIB rombongan jalan menuju Ciater.


Karmila, 44, korban kecelakaan tanjakan Emen bersama putranya, Zaki, 9, saat menceritakan kecelakaan yang menimpa bus yang dia tumpangi, Senin, 12 Februari 2018. Foto: Medcom.id/Farhan Dwitama

Nahas datang

Tiba-tiba Mila merasa kangen suami jelang melewati tanjakan Emen. "Saya WA suami, dan saya katakan belum sampai, terus kemudian bus oleng, menabrak motor. Yang di dalam bus semua panik," jelasnya.

Terdengar teriakan takbir, ucapan istighfar. Mila pun merasa ajal tiba. Namun ia tetap berusaha fokus. Benar saja, setelah menabrak motor, oleng dan menabrak tebing, bus kemudian terguling dan tergelincir jauh ke bawah.

“Saat itu tangan saya kuat sudah memegang besi tirai, karena pegangan itu saya akhirnya bisa selamat,” katanya.

(Baca: Karmila Sempat Berpikir Ajal Tiba saat Bus Terguling)

Menurutnya, saat bus terguling ke tanah dan kaca bus pecah, sejumlah penumpang terlihatnya terpental keluar bus. Mila menduga para korban kemudian terseret dan terlindas badan bus. "Mungkin begitu, karena banyak korban itu tercecer anggota tubuhnya," kata dia.

Saat bus terseret jauh dengan kaca bus sebelah kiri menempel tanah, Mila tergantung di besi tirai, dengan posisi kakinya dalam keadaan jinjit yang sesekali menapaki bangku penumpang.

“Prak, kaca depan bus pecah, bus pun berhenti. Saat itu cuma berpikir bagaimana menyelamatkan diri, saya takut bus meledak,” terangnya.

(Baca: Suami Satu Korban Tanjakan Emen Berfirasat Buruk)

Selamat dari maut


Suara rintihan, permintaan tolong, takbir dan istighfar terdengar dari korban selamat. Mila yang berada di baris ketiga setelah pengemudi pun merangkak keluar.

“Saya lihat mungkin EO (panitia acara), kernet dan sopir yang pertama keluar bus,” kata dia.

Bak manusia laba-laba, diapun berusaha menyelamatkan diri. Satu demi satu bangku yang dia lewati dengan merangkak. Akhirnya Mila berhasil keluar bus.

“Di kepala saya, saya hanya ingat anak-anak, suami saya, saya ingat keluarga, maka saya harus selamat dan bertahan,” kata dia.


Bus pariwisata berpelat nomor F 7959 AA terguling di Tanjakan Emen, Kampung Cicenang, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Foto: MI/Reza Sunarya

“Syok sudah pasti, saya juga sudah sangat lemas. Tapi banyak warga disitu hanya menonton, mereka foto-fotoin, mereka videoin tanpa ada yang bantu satupun dari warga. Sampai saya marahin, karena sama sekali enggak ada yang peduli,” ucapnya.

Sampai kemudian macet di jalur tersebut, dan beberapa orang menolong mengeluarkan yang ada di bus. Nahas, 26 penumpang lain kehilangan nyawa.

(Baca: Tragedi di Tanjakan Emen Bukan karena Bus Overload)


(SUR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KECELAKAAN LALU LINTAS
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA DAERAH
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Thu , 22-02-2018