Mengenal Rawai Dasar Alternatif Pengganti Cantrang

Mulyadi Pontororing - 10 Januari 2018 16:05 wib
Ketua Antra Sulut Rignolda Djamaluddin. Medcom.id/ Milyadi
Ketua Antra Sulut Rignolda Djamaluddin. Medcom.id/ Milyadi

Manado: Pelarangan cantrang saat ini masih menjadi masalah bagi banyak nelayan. Pelarangan ini dianggap sangat merugikan bahkan mengancam keberlangsungan ekonomi.

Namun hal tersebut tak berlaku bagi nelayan di Kota Manado, Sulawesi Utara. Bagi mereka, pelarangan cantrang merupakan keputusan baik untuk menyelamatkan laut sebagai sumber keberlangsungan hidup.

Untuk mengganti cantrang, mereka pun mulai berinovasi dengan alat tangkap yang disesuaikan dengan kondisi perairan dan ramah lingkungan. Salah satunya, mengembangkan alat tangkap rawai dasar atau bottom long line.

Ketua Asiosiasi Nelayan Tradisional (Antra) Sulut yang sekaligus pembuat alat tengkap tersebut, Rignolda Djamaluddin, mengatakan, alat tangkap ini merupakan hasil risetnya selama bertahun-tahun. rawai dasar juga sanggup menghadapi situasi dan kondisi perairan yang kerap berubah-ubah.

Menurut dia, alat tersebut hanya dibuat dengan peralatan sederhana yang memanfaatkan bahan-bahan yang juga sederhana, seperti potongan sandal, bongkahan batu sebagai pemberat dan tentu saja tali atau senar serta mata kail.

"Kalau nelayan di sini alat tangkap itu disebut ranjau. Bahannya sangat sederhana, berupa tali monopilamen yang gampang didapat. Bahkan pada kondisi tertentu pengapungnya hanya menggunakan sandal dan pemberatnya hanya menggunakan batu dengan ukuran tertentu, kemudian buat ikatannya dengan rumus tertentu," ungkap Rignolda saat ditemui Medcom.id di salah satu rumah kopi di Manado, Selasa 9 Januari 2018.


Rawai dasar atau bottom long line.

Dia menuturkan, kalau alat itu dipasangkan 20 mata pancing, maka panjang lintasan alat tersebut bisa mencapai  100-130 meter. Bahkan dengan alat sederhana itu ikan yang sulit didapat dengan alat tersebut menjadi mudah. 

"Saya tidak perlu menangkap banyak-banyak ikan. Karena hanya dengan dua, tiga ekor saja, harga ikan yang tersangkut di alat tangkap tersebut sudah ratusan ribu. Dan tentu saja ikan yang didapatkan nilai ekonominya sangat baik," terang Rignolda yang akrab disapa Mner Oda.

Ikan hasil tangkap yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi itu, kata Mner Oda, semisal kerapu dan giant trevally dengan bobot 14-15 kilogram.

Dia juga mengatakan, alat tersebut didesain agar tidak menyangkut ke karang, mengingat perairan di Sulut dikenal dengan perairan dalam dan memiliki banyak karang.

"Prinsip di sini sebenarnya bagaimana nelayan bisa beradapatasi dengan kondisi laut. Seperti yang terjadi di perairan Manado yang banyak karang, banyak sampah plastiknya dan sudah tereklamasi," kata Mner Oda.

Dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado ini juga menambahkan, selain terbuat dari alat-alat sederhana, pengoperasian alat ini juga sangat sederhana, karena hanya membutuhkan satu, dua orang saja. Dan, jika dioperasikan lebih dari dua orang panjang lintasan alat tangkap yang bisa dipasang mencapai ribuan meter. Artinya tangkapannya semakin banyak.

"Saya sendiri saja sudah bisa mengoperasikan alat ini. Panjang lintasan yang saya pasang sendiri, biasanya hingga 130 meter yang di dalamnya ada 20 mata kail," beber Mner Oda.

Selain sederhana, dan murah serta mudah dibuat, Mner Oda juga mengaku alat ini sangat mudah untuk diperbaiki jika mengalami kerusakan.

"Untuk membuatnya sangat mudah dan murah. Efektif menangkap. Juga mudah untuk diperbaiki jika rusak. Dan terutama tidak merusak ekosistem yang ada. Kita hanya perlu mengatur di mana lokasi meletakkannya. Tidak ada masalah dan gampang."


Hasil tangkapan rawai dasar

Menurutnya, alat tangkap jenis rawai dasar ini juga cocok untuk perairan dangkal seperti di Pulau Jawa. Sebab alat ini diklaim bisa diadaptasikan di perairan dalam maupun dangkal.

"Kalau di perairan Manado saya menargetkan ikan dasar.  Namun, alat ini juga bisa diapungkan. Caranya tinggal mengaturnya di pelampung dan pemberatnya saja. Saya yakin alat ini juga cocok untuk perairan dangkal," bebernya.

Untuk mengatur kinerja alat tangkap tersebut, Mner Oda mengaku memunyai rumus-rumus ilmiah dalam ilmu kelautan dan sudah teruji di laboratorium maupun di laut. Untuk itu, dia mengaku bersedia mengajarkan kepada nelayan mana pun yang mau belajar membuat dan mengoperasikan alat tersebut.

Sejatinya, kata dia, alat tangkap ini digunakan untuk menangkap ikan hiu, namun karena hiu telah dilarang, maka kapasitas alat tangkap diturunkan. Seperti tali yang digunakan diganti senar biasa yang disesuaikan dengan ukuran target tangkapan.

Intinya, tandas Mner Oda, sebagai nelayan seharusnya mampu mengembangkan inovasi baru terhadap alat tangkap. Jangan hanya bergantung pada satu alat tangkap saja. Karena bagi, Mner Oda, tidak mungkin seorang nelayan hanya bisa bergantung pada satu alat tangkap. Apalagi kondisi laut dan populasi ikan selalu berubah.

Mner Oda juga mepertanyakan, mereka yang protes terhadap pelarangan cantrang. Apakah mereka memang sebagai nelayan atau buruh nelayan? Sebab, ujar dia, nelayan sebenarnya tidak akan mungkin memprotes pelarangan satu jenis alat tangkap, karena nelayan memiliki banyak cara untuk menghadapi kondisi laut. Dia menduga, protes dilakukan oleh buruh nelayan yang hanya bekerja di bawah pemilik modal atau pemilik cantrang, di mana ketika cantrang dilarang maka mereka tak bisa lagi melaut.

"Sebagai nelayan, kami tentu saja prihatin jika pelarangan tersebut berpengaruh pada kondisi ekonomi nelayan. Namun kita musti tahu betul yang protes itu nelayan atau buruh nelayan. Karena pelarangan satu jenis alat tangkap bukan berarti nelayan harus pasrah. Bahwa ketika satu jenis alat dilarang nelayan pun mati. Bagi saya nelayan punya banyak cara untuk menangkap ikan di berbagai kondisi dan dinamika di laut."

"Artinya juga Kementerian Kelautan dan Perikanan juga pemerintah daerah melalui dinas terkait harus menyediakan solusi dengan melakukan pengembangan dan inovasi terhadap alat tangkap seperti apa, yang bisa menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi, namun ramah lingkungan. Serta mengatur tataniaga nelayan agar nelayan bisa lebih sejahtera," pungkasnya.



(ALB)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG NELAYAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA DAERAH
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 24-01-2018