Pemerintah Didorong Kembangkan Cyber Ramah Anak

Hendrik Simorangkir - 10 Januari 2018 10:31 wib
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto -- medcom.id/Hendrik Simorangkir
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto -- medcom.id/Hendrik Simorangkir

Tangerang: Pemerintah didorong melakukan pencegahan kekerasan seksual pada anak dengan program inovatif yang ramah anak. Salah satunya dengan pengembangan cyber ramah anak untuk pemetaan perlakuan menyimpang pada anak di seluruh Indonesia.

"Bukan hanya di Tangerang yang dilakukan pemetaan, tapi seluruh Indonesia akan kami upayakan untuk mencegah timbulnya kasus ini lagi," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto usai melakukan pertemuan tertutup dengan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, Selasa, 9 Januari 2018.

(Baca: Pembangunan Karakter Dinilai Bisa Atasi Kekerasan Seksual)

Selain itu, lanjut Susanto, pemerintah daerah setempat tingkat kelurahan juga harus berperan dalam mengawasi warganya agar tak menjadi korban kekerasan seksual. Menurutnya seorang lurah tidak hanya berperan memberikan pelayanan administrasi kepada publik saja, melainkan mampu memonitoring warganya.

"Kerentanan anak terhadap kekerasan seksual tinggi, sehingga effort negara juga harus makin tinggi. Mampu mengedukasi berbagai instansi, terutama lurah," ujar Susanto.

(Baca: Masyarakat Diminta tak Merundung Korban `Babe`)

Sebelumnya, WS alias Babeh ditangkap karena menyodomi 41 anak di Tangerang. Anak yang menjadi korban seluruhnya laki-laki dengan rentang usia 10-15 tahun.

Modus tersangka dalam menjalankan aksinya dengan cara membujuk korban dengan iming-iming ilmu ajian pelet. Babeh juga menyuruh korban menelan gotri atau biji logam agar bisa mendapat ilmu kebal.

Tersangka dijerat Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun.


(NIN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PENCABULAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA DAERAH
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 23-04-2018