Polri Tindaklanjuti Beredarnya Foto Buronan Korupsi Kondensat

Arga sumantri - 13 Februari 2018 19:50 wib
Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto--MI/Rommy Pujianto.
Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto--MI/Rommy Pujianto.

Jakarta: Polri menyiapkan mekanisme penjemputan paksa terhadap buron kasus korupsi kondensat, Presiden Direktur PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Honggo Wendratno. Hal itu menyusul beredarnya foto yang menunjukkan Honggo saat kongko di sebuah kafe diduga di Singapura.

Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto mengatakan, Polri segera berkoordinasi lagi dengan interpol. Komunikasi akan dilakukan bidang SES NCB Interpol Indonesia.

"Kami akan sampaikan ke SES NCB Interpol untuk komunikasi dengan Interpol setempat. Karena memang kita tidak boleh menangkap di wilayah orang," kata Setyo di Komplek Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa 13 Februari 2018.

Baca: Kasus Korupsi Kondensat Mandek

Setyo mengaku belum mengetahui perkembangan terkini koordinasi interpol Indonesia dengan Singapura. Perkembangan perburuan Honggo akan ditindaklanjuti usai foto diduga Honggo tengah kongko beredar dan dimuat di media massa. 

"Nanti akan saya ingatkan kembali. Nanti malam saya ketemu (perwakilan Interpol Indonesia)," jelas Setyo.

SES NCB Interpol Indonesia terakhir mengendus berada di Singapura. Namun, Polri menerima surat balasan red notice dari pemerintah Singapura kalau Honggo tak berada di sana. 

"Kemungkinan dia pakai nama lain. Kan bisa aja pakai identitas lain," ungkap Setyo.

Baca: Buronan Kasus Korupsi Kondensat Belum Terlacak

SES NCB Interpol Indonesia, Brigjen Napoleon Bonaparte mengatakan, penggondol duit negara Rp38 triliun itu diduga kerap berpindah tempat pelarian. Ada beberapa negara yang sering dikunjungi Honggo di kawasan Asia Pasifik.

Napoleon memastikan, interpol yang berbasis di Lyon, Prancis telah mengeluarkan red notice ke 192 negara anggota terkait pencarian Honggo. Polri juga telah memberikan surat peringatan kepada sejumlah negara yang terdeteksi pernah dikunjungi Honggo.

"Dan kami masih menunggu respons dari negara itu, yang respons baru Singapura dan menyatakan tidak ada di Singapura. Tapi akan tetap lakukan kroscek (di Singapura)," ujar Napoleon di Mabes Polri, Kamis 8 Februari 2018.

Masih buronnya Honggo membuat kasus korupsi kondensat jalan di tempat. Sebab, kejaksaan meminta Polri bisa melakukan pelimpahan tiga tersangka kasus kondensat secara bersama-sama berikut dengan barang bukti.

Ketiga tersangka korupsi itu adalah Honggo, Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha BP Migas, Priyono dan mantan Deputi Finansial BP Migas, Djoko Harson. Berkas Priyono dan Djoko sejatinya telah rampung. Namun, Priyono dan Djoko batal ditahan karena Bareskrim batal melimpahkan keduanya ke kejaksaan.

Kasus ini bermula ketika SKK Migas menunjuk langsung PT TPPI sebagai pihak penjual kondesat pada Oktober 2008. Perjanjian kontrak kerja sama kedua institusi itu baru ditandatangani Maret 2009.

Dalam kontrak, PT TPPI harus menjual kondensat pada PT Pertamina. Tapi belakangan diketahui PT TPPI tidak menjual kondensat ke Pertamina melainkan ke pihak lain.

Proses tersebut diduga melanggar leputusan Kepala BP Migas Nomor KPTS-20/BP00000/2003-SO tentang Pedoman Tata Kerja Penunjukan Penjualan Minyak Mentah/Kondensat Bagian Negara.

Selain itu, tindakan ini tak sesuai Keputusan Kepala BP Migas Nomor KPTS-24/BPO0000/2003-SO tentang Pembentukan Tim Penunjukan Penjual Minyak Mentah/Kondensat Bagian Negara.

Berdasar perhitungan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), kerugian negara mencapai USD 2,716 miliar atau setara Rp35 triliun. Dari kasus ini pun telah disita sejumlah dokumen juga aset berupa tanah dan bangunan yang berada di kawasan TPPI di Jalan Tanjung Dusun Awar-awar, Desa Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.

Para tersangka dijerat Pasal 2 atau Pasal 3 UU Nomor 31/1999 tentang Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20/2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31/1999 tentang Tipikor.


(DEN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KORUPSI MIGAS
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA HUKUM
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 24-02-2018