DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Eks Sekjen Kemendagri Bantah Dapat Tas Hermes dari Keponakan Novanto

Damar Iradat - 07 Agustus 2018 19:13 wib
Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Diah Anggraeni seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK. Foto: MI/Arya Manggala.
Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Diah Anggraeni seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK. Foto: MI/Arya Manggala.

Jakarta: Bekas Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Sekjen Kemendagri) Diah Anggraini membantah menerima tas Hermes dari keponakan mantan Ketua DPR Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi. Tas tersebut diduga diserahkan ketika keduanya bertemu di Hotel Grand Hyatt. 

Awalnya, pengacara Irvanto, Waldus Situmorang, mengonfirmasi soal pemberian tas Hermes itu ke Diah. Pasalnya, Irvanto mengaku pernah menyerahkan tas tersebut ke Diah.

"Ketika Ibu (Diah) datang, masuklah ke ruang VIP sama Andi (pengsaha Andi Agustinus alias Andi Narogong). Ketika Anda sudah selesai dan keluar, tas itu diberikan oleh Vidi Gunawan (adik Andi Agustinus)," kata Waldus di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa, 7 Agustus 2018. 

Namun, Diah membantah keterangan Irvanto. Bahkan, dia mengaku belum pernah mengunjungi Hotel Grand Hyatt. "Saya tidak pernah ke Grand Hyatt dan tidak tahu," jawab Diah.

Jaksa sempat mencecar hal serupa ke Diah. Namun, ia tetap berpendirian tak pernah menerima pemberian tas mewah itu dari Direktur Utama PT Murakabi Sejahtera itu.

Diah kembali masuk dalam surat dakwaan untuk Irvanto dan pengusaha Made Oka Masagung. Ia diduga terlibat dalam pembahasan proyek KTP elektronik senilai Rp5,9 triliun. 

Diah diduga ikut menerima uang dari proyek tersebut. Ia disinyalir ikut menerima uang sejumlah US$500.000 dan Rp22.500.000

Baca: Chairuman Dicecar soal Hubungan Putranya dan Irvanto

Irvanto didakwa merekayasa proses lelang dalam proyek pengadaan KTP elektronik. Ia juga didakwa menjadi perantara suap untuk sejumlah anggota DPR RI.

Ia juga disebut memperkaya Setya Novanto US$7,3 juta. Atas perbuatannya, ia diduga merugikan negara hingga Rp2,3 triliun.

Irvanto dan Made Oka didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP.


(OGI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KORUPSI E-KTP
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA HUKUM
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Mon , 17-12-2018