Pesta Homoseks

Polisi Minta Protes Penindakan Pesta Homoseks Disampaikan Langsung

Lukman Diah Sari - 22 Mei 2017 20:22 wib
Tersangka pesta homoseks di Kelapa Gading. Foto: MTVN/Nur Azizah.
Tersangka pesta homoseks di Kelapa Gading. Foto: MTVN/Nur Azizah.

Metrotvnews.com, Jakarta: Kepolisian meminta pihak yang keberatan terhadap penindakan sejumlah pria diduga pesta homoseks, menyampaikan protes secara langsung. Polisi khawatir pihak yang melayangkan protes ini kekurangan informasi.

"Jadi alangkah baiknya konfirmasi langsung ke kepolisian, kami akan menjelaskan," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin 22 Mei 2017. 

Martinus mengaku seharusnya pihak yang keberatan ini terlebih dahulu melakukan konfirmasi kepada kepolisian. Sebab, kata Martinus, bisa saja informasi yang beredar itu, sepihak.

Martinus menjelaskan bahwa pihaknya tidak pernah menyebarkan sejumlah foto terkait penggerebekan dan pemeriksaan sebanyak 141 pria terduga mengikuti pesta homoseks. Polisi hanya menginformasikan melalui rilis kepada wartawan. 

"Jadi yang menyebarkan bukan kepolisian," ujar dia.

Martinus menegaskan, bahwa penindakan dilakukan berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pornografi. Penindakan terpaksa dilakukan lantaran 141 pria itu diduga melanggar UU tersebut.

"Sehingga penindakan ini berdasarkan hukum. Bukan berdasarkan kewenangan yang tidak terbatas," tegas dia.

Sebelumnya Koalisi Advokasi untuk Tindak Kekerasan terhadap kelompok Minoritas Identitas dan Seksual menilai kepolisian melakukan tindakan sewenang-wenang. Pertama, koalisi ini mengatakan bahwa polisi tidak berwenang melakukan penindakan ini.

"Penangkapan ini atas dugaan prostitusi gay di mana sebenarnya tidak ada kebijakan yang mengatur dan melarang tentang prostitusi gay," tulis koalisi ini dalam keterangan tertulis.

Koalisi ini terdiri dari LBH Jakarta, LBH Masyarakat, LBH Pers, Institute for Criminal Justice Reform, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, dan Arus Pelangi. Mereka mengaku mendampingi sejak penangkapan pada 21 Mei 2017 pukul 20.00 WIB.

Kedua, koalisi ini mengatakan bahwa kepolisian membawa ratusan pria ini dalam kondisi tanpa busana. Kondisi serupa berlangsung setidaknya hingga pemeriksaan berlangsung.

Ketiga, koalisi ini menyesalkan keberadaan mereka di kantor polisi diabaikan begitu saja. Polisi dikatakan tetap melakukan penindakan sewenang-wenang. 

"(Kesewenang-wenangan itu) dengan memotret para korban dalam kondisi tidak berbusana dan menyebarkan foto tersebut hingga menyebar viral baik melalui pesan singkat, media sosial maupun pemberitaan," ujar koalisi ini.

Koalisi ini mengecam tindakan kepolisian tersebut. Pasalnya tindakan ini dinilai sebagai preseden buruk bagi kelompok minoritas gender dan seksual lainnya.

Sejauh ini Polres Jakarta Utara telah menetapkan 10 tersangka. Empat yakni CD, N, D, dan RA yang berperan sebagai penjaga pusat kebugaran. Enam orang dengan inisial SA, BY, R,TT, A, dan S berperan sebagai penari striptis dan tamu.



(DHI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG HOMOSEKSUAL
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA HUKUM
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Sat , 19-08-2017