Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp 5.963.078.120 (13 AGUSTUS 2018)

Istri Hamzah Akui ada Aliran Duit ke PNS Kendari

Damar Iradat - 08 Agustus 2018 15:15 wib
Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra. Foto: MI/Rommy.
Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra. Foto: MI/Rommy.

Jakarta: Istri Direktur PT Sarana Bangun Nusantara Hasmun Hamzah, Yoselin mengakui adanya transaksi miliaran rupiah dari perusahaan suaminya ke pegawai negeri sipil (PNS) Kota Kendari. Uang itu diduga untuk diberikan kepada Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra.
 
Yoselin yang dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Adriatma dan Asrun mengatakan, ia mengetahui soal penarikan uang Rp2,8 miliar, masing-masing Rp1,5 miliar dari Bank Mega dan Rp1,3 miliar diambil dari brankas di rumahnya. Informasi itu ia dapatkan dari pegawainya, Hidayat dan Rini Erawati pasca suaminya tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
 
"Saya tahu setelah Pak Hasmun dibawa ke Polda. Mereka (Hidayat dan Rini) kan ikut dibawa. Setelah mereka selesai diperiksa, baru cerita ke saya soal ada penarikan tunai di bank, Pak Hasmun suruh siapkan dana Rp2,8 miliar," ungkap Yoselin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 8 Agustus 2018.
 
Yoselin menjelaskan, kunci brankas di rumahnya dipegang olehnya dan Rini. Namun begitu, ia mengaku Rini tidak perlu izin untuk mengambil uang dari brankas.
 
"Kalau uang di dalam brankas, Rini tidak perlu izin. Jadi nanti setelah saya pulang baru dia buat rincian apa saja uang yang digunakan. Biasanya, setiap saya pulang, baru ada rincian itu. Saya tahu setelah kejadian, uang ini diambil untuk bapak," tuturnya.

Baca: Dirut PT Sarana Bangun Nusantara Mengaku Beri Fee ke Staf Asrun

Ia melanjutkan, Fatmawati Faqih selaku Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Kendari, sering datang ke rumahnya dan menemui Hasmun. Menurut dia, Fatmawati sempat beberapa kali menginstruksikan agar pegawainya, Hidayat untuk mengirimkan uang ke sejumlah pihak.
 
Wali Kota Kendari nonaktif, Adriatma Dwi Putra dan mantan Wali Kota Kendari, Asrun, didakwa menerima suap miliaran rupiah. Keduanya merupakan ayah dan anak.
 
Adriatma menerima duit Rp2,8 miliar dari Direktur PT Sarana Bangun Nusantara Hasmun Hamzah. Uang itu diberikan agar Adriatma selaku Wali Kota menyetujui Hasmun mendapatkan jatah proyek pembangunan jalan Bungkutoko-Kendari New Port dengan sistem penganggaran multi years. Pendanaan untuk proyek itu menggunakan anggaran tahun 2018-2020.
 
Asrun, yang merupakan calon gubernur Sulawesi Tenggara, didakwa pula menerima Rp4 miliar dari Hasmun Hamzah. Uang itu diduga diberikan lantaran Asrun saat menjabat Wali Kota, menyetujui Hasmun mendapatkan jatah sejumlah proyek di Pemkot Kendari.
 
Dalam kasus ini, ayah dan anak itu didakwa melanggar Pasal 12 huruf B atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. 


(FZN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG OTT WALI KOTA KENDARI
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA HUKUM
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 15-08-2018