Ahli Sebut Hakim Harus Membuktikan Rekayasa Fredrich

Faisal Abdalla - 17 Mei 2018 18:11 wib
Terdakwa merintangi penyidikan KTP berbasis elektronik (KTP-el) - ANT/Muhammad Adimaja.
Terdakwa merintangi penyidikan KTP berbasis elektronik (KTP-el) - ANT/Muhammad Adimaja.

Jakarta: Guru besar Universitas Al-Azhar Indonesia Suparji Ahmad menyebut tindakan merintangi penyidikan dengan melakukan rekayasa medis yang dituduhkan pada Fredrich Yunadi harus dibuktikan. Ini penting untuk menghukum eks kuasa hukum Setya Novanto itu. 

"Harus dibuktikan rekayasa atau tidak, apakah bukti rasional atau tidak? Rekayasa dalam rangka apa? Penghindaran hukum atau kepentingan kliennya, perlu dibuktikan dulu," kata Suparji saat menjadi saksi meringankan untuk Fredrich di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis, 17 Mei 2018. 

Lebih jauh, Suparji mengatakan seharusnya perkara Fredrich disidangkan terlebih dahulu melalui majelis etik. Sebab, pelanggaran yang dituduhkan berkaitan dengan profesinya sebagai advokat. 

(Baca juga: Pengacara Bisa Bantu Klien Tunda Pemeriksaan)

"Berbeda (apabila) seorang advokat mencuri dan memerkosa, itu bisa (langsung) dipidana karena tidak berkaitan dengan profesi," imbuh Suparji.

Fredrich Yunadi ditetapkan sebagai tersangka merintangi penyidikan kasus dugaan korupsi proyek KTP-el yang menjerat Setya Novanto. Bekas kuasa hukum Novanto itu diduga memanipulasi data medis kliennya dan mengatur RS Medika Permata Hijau untuk menghindari pemeriksaan KPK pada pertengahan November 2017.

Atas perbuatannya, Fredrich dijerat dengan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. 




(REN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KORUPSI E-KTP
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA HUKUM
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 23-05-2018