Fredrich Yunadi Tak Penuhi Panggilan KPK

Juven Martua Sitompul - 12 Januari 2018 11:47 wib
Advokat Fredrich Yunadi - ANT/Hifidz A Mubarak.
Advokat Fredrich Yunadi - ANT/Hifidz A Mubarak.

Jakarta: Advokat Fredrich Yunadi dipastikan tidak memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini. Fredrich sedianya diperiksa sebagai tersangka terkait dugaan merintangi penyidikan perkara dugaan korupsi proyek KTP-el yang menjerat Setya Novanto.

Sapriyanto Refa, kuasa hukum Fredrich, mengatakan kliennya menolak hadir karena masih menunggu jawaban KPK terkait permintaannya untuk mengikuti proses pemeriksaan di komisi pengawas Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi).

"Iya hari enggak bisa hadir. Kami membuat surat (kemarin), Kan surat ini dikabulkan atau enggak, kalau dikabulkan berati kan bisa ditunda (pemeriksaan), kalau enggak dikabulkan, bisa diagendakan (ulang), ini kan baru agenda," kata Refa di Gedung KPK, Jakarta, Jumat, 12 Januari 2017.

Refa menuturkan Peradi bakal melakukan pemeriksaan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan Fredrich selama mendampingi Novanto. Dia membantah ketidakhadiran kliennya pada pemeriksaan untuk menghindari proses hukum yang berjalan di KPK.

"Enggak, ini kan proses hukum yang harus dihadapi ya, akan dihadapi. Cuma kan karena kita sudah buat surat kemarin, kita ingin tahu bagaimana kelanjutan surat kami itu, dikabulkan atau enggak," ujar dia.

(Baca juga: KPK Sita Alat Pembuat Keterangan Visum dari Dokter Bimanesh)

Dia memastikan, Fredrich masih berada di Jakarta. Refa bahkan menegaskan, kalau mantan kuasa Novanto itu tidak akan lari dari proses hukum lembaga Antirasuah. Fredrich siap hadir pada pemeriksaan berikutnya.

"Ada, ada, enggak kemana-mana, Pak Fredrich masih di Jakarta," pungkas dia. 

Sementara itu, Bimanesh Sutarjo, dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau, yang dijadwalkan diperiksa sebagai tersangka bersama dengan Fredrich sudah hadir dan tengah menjalani pemeriksaan.

Dalam kasus ini, Fredrich dan Bimanesh diduga memanipulasi data medis Novanto agar dirawat dan bisa menghindari pemeriksaan KPK pada pertengahan November 2017 lalu. Tak hanya itu, Fredrich diduga kuat mengatur RS Medika Permata Hijau sebelum Novanto mengalami kecelakaan.

Atas perbuatannya, Fredrich dan Bimanesh dijerat dengan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

(Baca juga: Skenario Fredrich Yunadi untuk Selamatkan Novanto)




(REN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KORUPSI E-KTP
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA HUKUM
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 20-04-2018