Penetapan Tersangka Novanto Disebut tak Sah

M Sholahadhin Azhar - 07 Desember 2017 11:09 wib
Sidang Praperadilan Setya Novanto kembali dilanjutkan - Medcom.id/M Sholahadhin Azhar,
Sidang Praperadilan Setya Novanto kembali dilanjutkan - Medcom.id/M Sholahadhin Azhar,

Jakarta: Ketut Mulya Arsana, kuasa hukum Setya Novanto, meminta hakim tunggal praperadilan Kusno membatalkan penetapan tersangka terhadap Novanto. Dia menilai penetapan itu tidak sah. 

"Yang dilakukan termohon terhadap diri pemohon adalah tidak sah," kata Ketut saat membacakan permohonan praperadilan di Ruang Utama Prof H. Oemar Seno Adji, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis, 7 Desember 2017.

Ketut menuturkan proses penetapan tersangka oleh KPK pada Novanto tak sesuai prosedur. Sebab, dalam proses itu, ada kesamaan obyek dan subyek materi perkara dengan penetapan tersangka sebelumnya. 

Dia juga menyatakan penetapan tersangka Novanto melabrak asas nebis in idem. Dalam asas itu dijelaskan bahwa seseorang tidak boleh dituntut dua kali setelah keputusan yang berkekuatan hukum tetap. 

Ketut juga mempermasalahkan soal Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP). "Bahwa sebelum SPDP diterima oleh pemohon ternyata SPDP dari termohon tersebut telah beredar dan tersebar di media cetak dan elektronik," imbuh Ketut.

KPK kembali menetapkan Ketua DPR RI Setya Novanto sebagai tersangka kasus dugaan korupsi KTP elektronik (KTP-el) pada 10 November 2017. Novanto diduga telah menguntungkan diri sendiri dan korporasi dari mega proyek yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu.

Kemarin, Komisi Antirasuah melimpahkan berkas perkara Novanto ke Pengadilan Tipikor Jakarta. Ini dilakukan usai berkas dinyatakan P21 atau lengkap. 

Merujuk Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP, proses praperadilan akan gugur jika perkara terkait sudah mulai disidangkan di pengadilan. Adapun regulasi serupa tertuang dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 102/PUU-XIII/2015.




(REN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG KORUPSI E-KTP
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA HUKUM
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 12-12-2017