Rochmadi Instruksikan Auditor BPK Berbohong saat Diperiksa KPK

Damar Iradat - 06 Desember 2017 22:07 wib
Suasana persidangan terdakwa kasus suap auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rochmadi Saptogiri
Suasana persidangan terdakwa kasus suap auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rochmadi Saptogiri

Jakarta: Terdakwa kasus suap auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rochmadi Saptogiri terungkap pernah menginstruksikan kepada sejumlah auditor BPK untuk berbohong saat diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Instruksi tersebut terungkap dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di persidangan dengan terdakwa Rochmadi. Saat itu, jaksa KPK tengah mencecar salah satu auditor BPK, Triyantoro yang tengah menjadi saksi.

"BAP nomor 28: iya benar pernah disampaikan saudara Didik, Winarno, dan Oktaviani bahwa saudara Rochmadi memerintahkan kepada kami untuk membuat kronologi tidak sesuai terhadap kegiatan LK Kemendes. Jika diperiksa KPK harus menjelaskan sesuai itu, benar BAP ini?" tanya jaksa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu, 6 Desember 2017.

Baca juga: Jaksa Minta Hakim Tolak Eksepsi Rochmadi

Namun, Triyantoro mengaku tidak pernah mengetahui soal instruksi tersebut. Jaksa kemudian mengatakan auditor BPK Didik, Winarno, dan Oktaviani pernah membesuk Rochmadi saat menjadi tersangka di Polres Jakarta Timur. Saat membesuk, lanjut jaksa, Rochmadi pernah memberikan instruksi kepada mereka. Hal tersebut tercantum dalam BAP nomor 29.

Namun, lagi-lagi Triyantoro berkelit. "Terkait instruksi tidak tahu," jawab dia.

Dalam kesaksiannya, Triyantoro terus membantah isi BAP miliknya. Namun jaksa juga tak menyerah dan kembali bertanya apakah ia merasa tertekan selama diperiksa.

"Saya tiba di penyidik, kondisi lelah dan capek," tutur Triyantoro.

Baca juga: Rochmadi Didakwa Mencuci Uang Rp3,5 Miliar Hasil Gratifikasi

Rochmadi didakwa dalam tiga perkara. Pertama, kasus dugaan suap dari dua pejabat Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Sugito dan Jarot Budi Prabowo sebesar Rp240 juta.

Ia juga didakwa telah menerima gratifikasi berupa uang Rp3,5 miliar pada kurun waktu tahun 2014 hingga 2017. Saat itu, Rochmadi menjabat sebagai Auditor Utama Keuangan Negara III.

Setelah menerima gratifikasi Rp3,5 miliar, Rochmadi disebut tidak pernah melapor ke KPK. Perbuatan Rochmadi menerima gratifikasi dianggap suap karena berhubungan dengan jabatan.

Atas perbuatannya di kasus dugaan gratifikasi, Rochmadi didakwa melanggar Pasal 12 B Undang-undang No 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

 


(CIT)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG SUAP DI BPK
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA HUKUM
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 13-12-2017