Pengusutan Kasus Lahan Cengkareng Mandek

Nur Azizah - 16 Agustus 2017 22:54 wib
Lahan sengketa di Cengkareng Barat. Foto: Googlemaps.
Lahan sengketa di Cengkareng Barat. Foto: Googlemaps.

Metrotvnews.com, Jakarta: Kasus Lahan Cengkareng Barat, Jakarta Barat mandek di tengah jalan. Sudah lebih setahun, tersangka pemberi duit gratifikasi pembelian lahan seluas 4,6 hektare itu belum juga diketahui.

Kasubbag Bantuan Hukum Biro Hukum Pemerintah Jakarta Haratua Purba mengatakan, kasus gratifikasi dan korupsi lahan Cengkareng Barat masih ditangani Bareskrim Polri. Namun, dia juga tidak tahu sejauh apa kemajuan kasus itu di Bareskrim.

"Kalau perdatanya kami yang tangani dan itu sudah selesai. Kalau pidananya semuanya mandek. Di Bareskrim kita enggak tahu kasusnya sejauh apa," kata Hara kepada Metrotvnews.com, Jakarta, Rabu 16 Agustus 2017.

Hara menyampaikan, bekas lurah Cengkareng Barat, Tarso sudah mengembalikan uang pelicin ke Bareskrim Polri. Begitu pun dengan Mohammad Hatta, mantan Lurah Cengkareng Barat setelah Tarso. Hatta sudah menyerahkan duit sebesar Rp250 juta ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

"Padahal Tarso sudah balikin duit, Hatta juga sudah balikin, sekel (sekretaris lurah) juga sudah. Tapi kenapa di Bareskrim berhenti? Kenapa begitu?," Ujarnya.

Duit gratifikasi pembelian lahan Cengkareng Barat diduga mengalir ke banyak pihak. Lahan seluas 4,6 hektare itu dijual 'pemilik' lahan, Toeti Noezlar Soekarno, seharga Rp668 miliar ke Dinas Perumahan DKI Jakarta pada November 2015.
 
Uang 'terima kasih' itu dibagikan dalam jumlah beragam, mulai dari jutaan rupiah hingga miliaran rupiah. Sampai saat ini angka uang gratifikasi yang paling besar diterima mantan Kepala Bidang Pembangunan Perumahan dan Permukiman Dinas Perumahan DKI Sukmana.
 
Pada Januari 2016, Sukmana disodorkan uang Rp9,6 miliar. Fulus diserahkan langsung oleh kuasa tanah Toeti Soekarno, Rudy Hartono Iskandar.
 
Sukmana sempat terkejut menerima uang berjumlah fantastis itu. Sukmana juga menanyakan untuk apa uang sebanyak itu diberikan kepada dirinya.
 
"Dia bilang uang terima kasih operasional dinas dan dia langsung pergi," kata Sukmana Kepada Metrotvnews.com, Jumat 1 Juli 2016.

Tak sampai di situ, beberapa pejabat kota disebut-sebut ikut kecipratan uang pembelian lahan yang berada di Rawa Bengkel, Cengkareng Barat. Mantan Lurah Cengkareng Barat Mohammad Hatta mengaku mendapat uang sebesar Rp250 juta. Uang tersebut sebagai tanda terima kasih setelah dirinya meneken surat lahan milik Toeti Soekarno tidak dalam sengketa.
 
"Iya (menerima uang). Tapi, kan saya enggak pernah ambil. Itu sudah dikasih ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)," kata Hatta pada Metrotvnews.com di Kalideres, Jakarta Barat, Selasa 19 Juli 2016.

Hatta mengaku tak mengetahui asal muasal uang tersebut. Ia membantah Rudy Hartono Iskandar yang memberikan uang tersebut.
 
"Enggak tahu saya (asal uang). Saya sudah takut terima itu. Saya juga sudah itikad baik untuk mengembalikan ke KPK," ungkap Hatta.

Mantan Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Cengkareng Barat Gozali juga disebut ikut menerima gratifikasi. Kabarnya, paraf Gozali dihargai Rp30 juta hingga Rp35 juta.

Namun, ia buru-buru membantah kabar tersebut. Kendati begitu, Gozali tak nemampik bila dirinya menerima uang sebagai hadiah. Uang ia terima setelah tiga kali mengurus surat pengajuan sertifikat tanah milik Toeti Soekarno.
 
"Demi Allah saya enggak terima segitu (Rp35 juta). Kalau jumlahnya segitu, saya enggak seperti ini. Saya dikasih Rp5 juta doang," tegas Gozali kepada Metrotvnews.com, Jakarta Barat, Senin 25 Juli 2016.
 
Menurut pengakuannya, mantan Lurah Cengkareng Barat Tarso yang memberikan uang tersebut. Berdasarkan informasi yang didapat, Tarso mendapat jatah Rp2 miliar dari Rudy Hartono Iskandar.
 
Tarso diduga sebagai saksi kunci yang mengetahui seluruh proses pembuatan sertifikat milik Toeti Soekarno. Sebab, dia yang pertama kali mengurus pembuatan sertifikat tahan milik Toeti.

Kasus ini mencuat usai seseorang bermama Toeti Noezar Serkarno melalui kuasanya Rudy Hartono Iskandar menjual lahan tersebut ke Dinas Perumahan dan Gedung DKI Jakarta pada 13 November tahun lalu. Toeti mengklaim sebagai pemilik lahan.

Wanita asal Bandung ini menjual tanah seharga Rp14,1 juta per meter dengan total Rp668 miliar. Tak lama setelah proses jual beli terjadi, hasil audit BPK diketahui bahwa lahan yang dibeli dari Rudy milik Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Provinsi DKI Jakarta.


(DHI)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PEMBELIAN LAHAN CENGKARENG
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA METRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Wed , 20-09-2017