DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK, Dana Terkumpul RP 12.459.578.391 (16 AGUSTUS 2018)

200 Karyawan Bianglala Metropolitan Terancam PHK

- 29 April 2018 19:16 wib
Ilustrasi Transjakarta/MI/Galih Pradipta
Ilustrasi Transjakarta/MI/Galih Pradipta

Jakarta: Sebanyak 200 orang karyawan PT Bianglala Metropolitan terancam di-PHK pasca PT Transportasi Jakarta memberikan sanksi dengan menyetop operasional 48 armada bus perusahaan tersebut. Sanksi yang diberikan TransJakarta terhadap PT Bianglala Metropolitan juga dinilai janggal.

Direktur PT Bianglala Metropolitan Wahid Sukamto mengatakan, keputusan sepihak PT TransJakarta menghentikan operasi 48 Bus angkutan malam hari (amari) menyebabkan 200 karyawannya terancam diberhentikan. Padahal, seharusnya, menurut dia, TransJakarta harus bisa lebih bijak dalam menghadapi permasalahan tersebut.

"Kalau PT TransJakarta tidak mencabut keputusannya kami terpaksa memutus kontrak kerja 100 sopir, 50 mekanik, dan 50 staf," ucap Sukamto lewat pernyataan tertulis, Jakarta, Minggu, 29 April 2018.

Soal sanksi, kata dia, seharusnya hanya diberikan kepada pengemudi dan satu armada yang mengalami kecelakaan, bukan menghentikan operasional bus secara keseluruhan. Sebab, dari penyelidikan kepolisian, kecelakaan disebabkan kelalaian pengemudi.

Baca: PT Bianglala Metropolitan Terancam Dikenai Sanksi

"Pengemudi itupun sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Ini membuktikan bahwa persoalan bukan karena kelayakan bus," kata Sukamto 

Ia menilai tidak ada alasan bagi PT TransJakarta untuk menghentikan operasional ke 48 Bus Amari itu. Sukamto menyatakan, status ke 48 Bus itu layak beroperasi atau SGO (siap guna operasi) dan itu rekomendasi itu dikeluarkan oleh PT Transjakarta. 

Apalagi menurutnya, sampai saat ini kontrak kerjasama masih berjalan dan baru berakhir September 2018. Sukamto berharap bahwa TransJakarta tetap mematuhi kontrak kerjasama yang tengah berjalan. 

"Makanya  saya agak bingung juga mau dibawa ke mana sebenarnya masalah ini," terangnya.

Sebelumnnya Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahudin Uno juga menyatakan kasus itu semata akibat human error yang disebabkan adanya mobil yang secara mendadak memotong jalur bus BMP 162 itu. Karena itu Sukamto menolak tudingan bus yang dikemudikan pihak Bianglala telah melanggar SOP dan batas kecepatan. 

Baca: Penghentian Pengoperasian 48 Bus TransJakarta tak Memengaruhi Pelayanan

Sukamto juga mengungkapkan fakta atau dokumen otentik yang dikeluarkan oleh PT TransJakarta terkait evaluasi kecelakaan tersebut. Pertama, rekaman kecepatan bus BMP 162 sejak meninggalkan halte OKI hingga titik kecelakaan, bus melaju dengan kecepatan maksimum 35kilometer per jam. 

Kedua, pada tanggal 11 April 2018, tiga hari setelah kecelakaan, pihak PT TransJakarta masih mengeluarkan rekomendasi bahwa 48 unit bus amari yang dioperasikan Bisnglala layak jalan. Rekomendasi itu juga memuat sebanyak 27 unit lainnya tidak dapat operasi (TDO) Terakhir, polisi juga sudah mengizinkan bus yang ditahan dibawa pulang ke poll tanpa caratan bahwa bus tidak layak jalan. 

Baca: Pemprov DKI Sanksi PT Bianglala Metropolitan

Menurutnya, kerugian besar juga bakal diderita Bianglala karena biaya rekondisi atau perbaikan bus milik Transjakarta yang dioperasikan Bianglala untuk amari belum balik modal. "Miliaran rupiah yang harus kami keluarkan, dan belum balik modal. Dan kami bisa bangkrut dengan kebijakan ini," pungkas Sukamto.

Sanksi tersebut diberikan setelah salah satu armada milik PT Bianglala Meropolitan yang merupakan operator bus Transjakarta terguling di Cawang pada 9 April lalu. Peristiwa terbaliknya bus TransJakarta menyebabkan 10 orang luka-luka. Penumpang yang mengalami luka langsung dibawa ke Rumah Sakit UKI untuk mendapatkan bantuan medis.


(DMR)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG TRANSJAKARTA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA METRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 17-08-2018