DOMPET KEMANUSIAAN PALU/DONGGALA, Dana Terkumpul RP 51.179.914.135 (23 NOV 2018) Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) (Mandiri - 117.0000.99.77.00) (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Kota Tua Jakarta yang tak Lagi Tua

- 10 Juli 2018 10:51 wib
Aktifitas pengunjung di Museum Sejarah Jakarta di kawasan Kota Tua, Jakarta. (Foto: MI/Bary Fathahilah)
Aktifitas pengunjung di Museum Sejarah Jakarta di kawasan Kota Tua, Jakarta. (Foto: MI/Bary Fathahilah)

Jakarta: Kawasan Kota Tua Jakarta belum berhasil masuk ke dalam daftar situs warisan dunia United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Proyek reklamasi dan keberadaan gedung tinggi baru di kawasan tersebut menjadi salah satu pertimbangan UNESCO tak merekomendasikan Kota Tua Jakarta sebagai bagian dari warisan budaya dunia.

Pendiri Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali mengakui tak ada yang salah dengan pertimbangan UNESCO. Faktanya, sejumlah warisan budaya yang didaftarkan ke UNESCO justru banyak berubah dari bentuk asalnya.

"Kita terlalu tergesa-gesa padahal pembangunan kota tua, revitalisasi kota tua belum berjalan dengan maksimal. Banyak bangunan yang tidak terkoordinasi dengan baik," ujarnya dalam Selamat Pagi Indonesia, Selasa, 10 Juli 2018.

Salah satu contoh, kata Asep, kantor pajak yang berdiri tepat di belakang museum kawasan kota tua tak lebih rendah dari bangunan Museum Sejarah Jakarta.

Ketinggian gedung pajak yang melebihi bangunan utama di kawasan tersebut dianggap merusak situs. Tak ayal, UNESCO menganggap kawasan Kota Tua tak lagi tua lantaran gedung baru yang posisinya lebih tinggi dari bangunan utama. 

"Belum lagi proyek kanal Beos yang merusak struktur di bawah tanah sisa pondasi Benteng Batavia atau kali besar di belakang Museum Wayang yang juga merusak autentikasi karena pembetonan," kata dia.

Menurut Asep, revitalisasi kawasan dengan betonisasi mungkin membuat kawasan Kota Tua lebih menarik secara penampilan. Namun perlu diingat bahwa mengubah dengan membeton kawasan justru merusak nilai sejarah yang diinginkan oleh UNESCO.

"UNESCO mungkin inginnya melihat revitalisasi itu sesuai dengan peta lama yang ada bukan betonisasi," jelas dia.





(MEL)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG REVITALISASI KOTA TUA
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA METRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 14-12-2018