Berbagi Untuk Palestina, Dana Terkumpul Rp Rp2.641.144.273 (17 JULI 2018)

Serikat Guru Pertanyakan Soal UN tak Sesuai Kisi-Kisi

Kautsar Widya Prabowo - 15 April 2018 12:04 wib
Sejumlah siswa SMA Negeri 1 Meureubo mengikuti pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Laboratorium Komputer Kampus Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Senin (9/4). (Foto: Antara/Syifa Yulinnas).
Sejumlah siswa SMA Negeri 1 Meureubo mengikuti pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Laboratorium Komputer Kampus Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Senin (9/4). (Foto: Antara/Syifa Yulinnas).

Jakarta: Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mempertanyakan tujuan dan fungsi Ujian Nasional (UN). UN dianggap hanya memotret kualitas sekolah tanpa memikirkan kualitas siswa. 

Wakil Sekjen FSGI Satriwan Salim menyebut ada empat poin yang menjadi polemik UN, utamanya UN Berbasis Komputer (UNBK). Sebab soal yang disajikan tidak sesuai dengan kisi-kisi.

Dalam konteks teori pendidikan, tingkatan keterampilan berpikir (cognitive skills) terdapat enam tingkatan. Sementara kondisi siswa masih berada pada tingkat C1 hingga C3 (mengingat, memahami, dan menerapkan) atau masih dalam tingkatan keterampilan berpikir rendah. 

"Para siswa kita masih berpikir di level tingkat rendah (lower order thinking skill), sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai asesmen internasional seperti PISA (Programme for International Students Assessment) dan TIMSS (Trends International Mathematics and Science Study),” ujar Satriwan melalui keterangan tertulisnya, Jakarta, Minggu, 15 April 2018. 

(Baca juga: Mendikbud Minta Maaf Soal UNBK SMA Sulit)

Kemudian, lanjut dia, keterampilan berpikir High Order Thinking Skills (HOTS) semestinya tidak difokuskan dalam soal UNBK. Sistem tersebut  seharusnya lebih ditunjukkan ke dalam proses pembelajaran selama tiga tahun. 

"Memfokuskan berpikir HOTS hanya pada soal UNBK hal yang keliru. Karena menguji seorang anak dengan soal yang tidak pernah diajarkan adalah bentuk ketidakadilan," ketus Satriwan.

Bila siswa diminta berpikir pada level HOTS, guru juga harus menampilkan proses pembelajaran HOTS di dalam kelas. "Percuma saja soal-soal ujiannya di level tinggi, tetapi proses pembelajaran siswa tidak pernah menyentuh kemampuan berpikir kritis, evaluatif, dan kreatif."

Faktanya, para guru dan siswa hanya fokus mengulas soal UN tahun-tahun sebelumnya saat menjelang UN. Siswa dilatih mampu menjawab soal-soal secara cepat dan tepat. 

"Jadi di lapangan, pembelajaran tidak diarahkan kepada proses menumbuhkan kesadaran dan keterampilan berpikir kritis. Inilah salah satu cacat dari pelaksanaan UN sedari dulu," tuturnya.

(Baca juga: Mendikbud: Siswa tak Siap Kenaikan Standar UNBK)

Menurut Satriwan, keberadaan UN bertentangan dengan tindakan memperbaiki kualitas sekolah dan pendidikan. UN wajib bagi siswa namun tidak menjadi penentu kelulusan dan indikator masuk kampus.

"FSGI menilai Kemdikbud sebenarnya galau terkait keberadaan UN ini. Jangan sampai biaya besar dan energi sekolah (guru, siswa, orang tua termasuk dinas pendidikan) habis untuk melaksanakan suatu program besar yang tidak jelas fungsi dan kegunaannya," pungkas Satriwan.


(HUS)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG UJIAN NASIONAL
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA METRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Fri , 20-07-2018