Menyetarakan Pendidikan melalui Gerakan UI Mengajar

Husen Miftahudin - 06 Desember 2017 17:17 wib
Dua relawan dalam Gerakan Universitas Indonesia Mengajar (GUIM), Alberta Prabarini (kanan) dan Robyanti Wulandari (kiri), Medcom.id - Husen Miftahudin
Dua relawan dalam Gerakan Universitas Indonesia Mengajar (GUIM), Alberta Prabarini (kanan) dan Robyanti Wulandari (kiri), Medcom.id - Husen Miftahudin

Jakarta: Gerakan Universitas Indonesia Mengajar (GUIM) menjadi sarana mahasiswa beralmamater kuning mengabdikan diri untuk pendidikan di daerah. Aksi yang dihelat tiap tahun mengirim sekitar 80-100 mahasiswa ke Sekolah Dasar (SD) pelosok.

Pegajar GUIM angkatan 5 Alberta Prabarini mengaku mendapat banyak pengalaman ketika ikut mengabdikan diri. Mengajar di SDN 1 Rangimulya, Desa Rangimulya, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal kala itu membuat Berta, sapaan Alberta Prabarini, mengerti akan pentingnya kesetaraan pendidikan.

"Sekolah di desa-desa itu masih menggunakan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) 2006 yang enggak kekininian. Dari dulu konsepnya itu-itu saja, padahal sudah ada Kurikulum 2013 (K-2013) yang lebih kualitatif," kata Berta saat berbincang dengan Medcom.id beberapa waktu lalu.

Mahasiswi Jurusan Antropologi Fisip UI ini memang suka mengajar. Bagi dia, menjadi pengajar di GUIM membuat dirinya lebih dekat dengan anak-anak, mengenal budaya baru, dan belajar cara beradaptasi dengan lingkungan yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

"GUIM itu mengedepankan mimpi, bermimpilah mereka. Kita men-trigger mimpi siswa agar tidak takut, tidak pesimis, dan meningkatkan semangat belajar mereka. Intinya, mereka diharapkan semangat untuk sekolah," tegasnya.

Saat ini, GUIM tengah menyeleksi pengajar untuk GUIM 7 yang bakal diselenggarakan pada awal Januari tahun depan. GUIM 7 akan turun ke sekolah-sekolah dasar di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat dengan menerjunkan sebanyak 36 tenaga pengajar dan 54 orang panitia.

Ketua Divisi Humas GUIM 7 Robyanti Wulandari menjelaskan 36 tenaga pengajar nantinya akan mengajar di enam sekolah berbeda. Sekolah-sekolah itu dipilih berdasarkan survei data dan lapangan. Survei data seperti angka putus sekolah, nilai ujian nasional (UN), dan indeks pembangunan manusia (IPM).

Setiap sekolah terdapat enam tenaga pengajar. Setiap tenaga pengajar mengajar untuk satu kelas.

"Kita mengajar PKN, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kesenian, IPA, dan IPS. Enggak ngajar (mata pelajaran) Olahraga dan Agama. Bentuknya tim teaching, berkolaborasi dan didampingi  guru aslinya," papar dia.

GUIM mengajar lewat metode dan media pembelajaran kreatif. Metode mengajari siswa lebih kepada manajemen kelas. Setiap kali mengajar, tempat duduk siswa melingkari sang pengajar.

"Metode juga mengajarkan leadership bahwa ketua kelas digilir. Kemudian kita juga ada kartu toilet, jadi setiap siswa tidak bisa ke kamar mandi secara bergerombol, mereka satu-satu ke kamar mandi," kata Wulan.

Sementara media pembelajaran kreatif memberi sistem pengajaran yang tidak monoton. Misal, untuk mata pelajaran Sejarah, pengajar membawa media wayang untuk menceritakan kejadian dan tokoh-tokoh sejarah.

"Kami berharap metode dan media pembelajaran yang kita bawa diterapkan guru-guru sana. Kita kan di sana cuma 25 hari, jadi kita harapkan cara ajar kita sustainable diterapkan," pungkas Wulan.


(RRN)

ADVERTISEMENT
KUMPULAN BERITA TENTANG PENDIDIKAN
MORE
BACA JUGA KUMPULAN PERISTIWA METRO
TRENDING TOPIC
ADVERTISEMENT
POPULAR
ADVERTISEMENT

Tue , 12-12-2017